<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Alice&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://alice4th.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alice4th.wordpress.com</link>
	<description>My Short Stories - in a weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 Nov 2011 15:39:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='alice4th.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Alice&#039;s Blog</title>
		<link>http://alice4th.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://alice4th.wordpress.com/osd.xml" title="Alice&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://alice4th.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pusat Perbelanjaan</title>
		<link>http://alice4th.wordpress.com/2011/04/26/pusat-perbelanjaan/</link>
		<comments>http://alice4th.wordpress.com/2011/04/26/pusat-perbelanjaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Apr 2011 15:46:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alice4th</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alice4th.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Berapa jarak dari sini sampai ke sana? Sepertinya tidak begitu jauh. Atau memang jauh? Pada saat seperti ini, jarak kelihatannya relatif. Relatif tergantung dari sisi yang mengukur. Hitungan kasar saja, aku berada di lantai 5. Jika satu lantai tingginya sekitar 4 meter, berarti saat ini aku ada di ketinggian 20 meter. Atau hanya 16 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=56&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:2px;"> &nbsp; </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Berapa jarak dari sini sampai ke sana? Sepertinya tidak begitu jauh. Atau memang jauh? Pada saat seperti ini, jarak kelihatannya relatif. Relatif tergantung dari sisi yang mengukur. Hitungan kasar saja, aku berada di lantai 5. Jika satu lantai tingginya sekitar 4 meter, berarti saat ini aku ada di ketinggian 20 meter. Atau hanya 16 meter? Karena aku tidak berada di langit-langit lantai 5, aku ada di dasarnya. Tapi biasanya kan sebelum lantai 1 masih ada yang namanya ground floor atau upper ground? Tapi apakah bangunan ini juga menetapkan aturan seperti itu? Aku tidak ingat. Tidak memperhatikan sewaktu aku naik ke lantai ini.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Seorang anak kecil lewat sambil digandeng oleh seseorang, sepertinya baby sitternya. Mana ibunya? Aku tidak melihatnya. Ah, ada, ibunya berjalan agak jauh dibelakang, sibuk berbicara di telepon gengam, cincin-cincin di jarinya gemerlapan ketika ia berjalan. Anak kecil itu sekilas menoleh ke arahku, dia tersenyum, lalu melambaikan tangan ke arahku. Aku membalas senyumannya, tapi tidak lambaiannya, tangan kananku sakit. Kulihat si baby sitter menariknya dan mengajaknya berbicara, membuatnya menoleh ke arah lain.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Seorang sekuriti lewat didekatku. Suara dari handy talkynya lumayan berisik. Ia lewat sambil sekilas melihat keadaan sekitarnya. Sesekali ia menjawab panggilan di handy talkynya, tertawa sebentar dengan rekannya yang tidak ada didekatnya, lalu kembali berjalan lagi. Berpatroli singkat. Kulihat juga ia mengecek telepon gengamnya, sepertinya ada sms yang masuk, karena setelah itu aku melihat ia mengetik sesuatu di telepon gengamnya. Sepertinya sedang membalas sms yang dikirimkan kepadanya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sepasang muda mudi lewat sambil bergandengan tangan. Yang laki-laki membawa beberapa tas belanjaan. Sepertinya mereka berdua berpacaran. Yang perempuan sedang bercerita tentang sesuatu dengan menggebu-gebu. Tapi yang laki-laki kelihatannya tidak begitu tertarik. Ia hanya menimpali sesekali, terkadang diam-diam melirik ke telepon gengamnya, mengecek apakah ada panggilan masuk atau sms ke sana. Yang perempuan tidak begitu memperhatikan, ia tetap bercerita, kemudian menarik yang laki-laki ke sebuah toko pakaian, sampai situ saja, aku tidak dapat melihat kemana mereka pergi setelah itu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Segerombolan anak-anak lewat sambil cekikikan, sepertinya mereka masih SMP, yang perempuan kebanyakan menggunakan bando berpita dan gelang warna warni, yang laki –laki kebanyakan bergaya seperti penyanyi remaja yang sedang digemari saat ini. Mereka berisik, selalu berisik. Aku kurang suka jika melihat segerombolan anak-anak seperti mereka melintas didekatku. Entah mengapa, tapi kurasa mereka mengganggu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Lalu perempuan itu datang. Berjalan pelan kearahku. Ia sendirian. Ia sempat termenung sebentar di sebelahku sebelum melihatku dan tersenyum singkat. Sambil tersenyum, ia menganggukkan kepalanya sedikit, seolah mengucapkan salam. Aku membalas pelan anggukannya. Dan kemudian kulihat dia melompat.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pusat perbelanjaan itu biasanya ramai di hari Sabtu dan Minggu. Aku ingat peristiwa itu. Saat aku melihatnya lompat disebelahku. Menjatuhkan tubuhnya dari lantai 5, jatuh begitu saja menurut hukum gravitasi. Orang-orang berteriak kaget ketika melihatnya menjatuhkan diri, lebih kaget lagi saat tubuh perempuan itu  menghantam lantai. Ia tewas seketika. Beberapa anak-anak menjerit ketakutan, begitu pula beberapa orang perempuan. Tapi ada juga yang berkerumun mendekati mayat itu. Berbisik-bisik heran dan tidak mengerti, memandang bingung ke atas, ke arah lantai 5, tempat perempuan itu melompat. Ada juga yang menyempatkan diri memotret mayat itu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pihak sekuriti pusat perbelanjaan datang dan mengamankan lokasi. Suasana terlihat ricuh di lantai dasar. Orang-orang berkerumun dan saling bertanya pertanyaan yang sama: ”Ada apa?” Peristiwa lompatnya perempuan itu menjadi perbincangan hangat di media massa sampai seminggu setelahnya. Pengunjung yang melewati tempat jatuhnya si perempuan seringkali berbisik-bisik, sambil menunjuk-nunjuk tempat perempuan itu menjatuhkan diri.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tapi kali ini, ketika kulihat perempuan itu jatuh. Aku nyaris tidak merasakan apa-apa. Ini bukan pertama kalinya kulihat ia melakukannya. Sudah berapa kali aku melihatnya? Tidak ingat. Tapi jelas aku ingat kalau ini bukan yang pertama.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Setelah perempuan itu datanglah seorang pria paruh baya. Wajahnya lesu. Ia melirikku sekilas. Lalu melompat. Aku hanya memandangnya, memperhatikan bagaimana ia jatuh dan menghantam lantai dasar. Lalu aku juga melompat.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:2px;"> &nbsp; </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Eh lo tau ga, di lantai 5 pusat perbelanjaan ini kan ada tempat yang dipagerin? Disitu katanya 2 orang pernah bunuh diri loh”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Gue keknya pernah denger deh”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Iya, ada bapak-bapak gitu, katanya stress karena utangnya banyak, terus ada anak cewek yang bunuh diri, katanya sih gara-gara diputusin pacarnya”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Iiihh! Serem amat sih?”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Iya. Serem tuh, makanya dipagerin, soalnya tempatnya katanya jadi berhantu. 2 orang yang lompat bunuh diri itu dari tempat yang sama loh”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Eh, ngomong-ngomong masalah tempat bunuh diri itu, benernya ada 3 orang tauk yang pernah lompat dari sana”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Eehh? Setau gue cuma 2 tuh?”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Iya, setau gue juga cuma 2”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Ada 3 kok. Yang satu lagi itu lelaki deh, ga jelas bunuh dirinya kenapa. Keluarganya ga mau bilang anaknya bunuh diri. Jadi dibilangnya jatuh gitu?”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Ah, ngarang ya?”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Ga lah, masa gue ngarang si?”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Halah, udah de ga usa dibahas lagi, kata temen gue yang bisa liat, arwah mereka masi disitu tau, loncat terus dari tempat yang sama, setiap hari”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Hiiyyyy! Yang bener aje!”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Beneran, makanya uda, ga usa dibahas lagi&#8230;”</span></span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alice4th.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alice4th.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alice4th.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alice4th.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alice4th.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alice4th.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alice4th.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alice4th.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alice4th.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alice4th.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alice4th.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alice4th.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alice4th.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alice4th.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=56&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alice4th.wordpress.com/2011/04/26/pusat-perbelanjaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a26cb5d409105efeba4f24b1ceaaedd7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alice4th</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gadis Itu</title>
		<link>http://alice4th.wordpress.com/2010/11/25/gadis-itu/</link>
		<comments>http://alice4th.wordpress.com/2010/11/25/gadis-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Nov 2010 22:21:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alice4th</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alice4th.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Pertama kali aku melihat gadis itu duduk di meja paling ujung di kantin kantor. Ia duduk diam sendirian, berkutat dengan handphone yang digenggamnya dengan kedua tangan, piring bekas makannya masih terletak di depannya. Gadis itu panjang rambutnya sedang, hitam lurus menjuntai dengan rapi, ia mengenakan kemeja dan celana panjang sederhana yang enak dilihat, sesekali ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=49&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama kali aku melihat gadis itu duduk di meja paling ujung di kantin kantor. Ia duduk diam sendirian, berkutat dengan handphone yang digenggamnya dengan kedua tangan, piring bekas makannya masih terletak di depannya. Gadis itu panjang rambutnya sedang, hitam lurus menjuntai dengan rapi, ia mengenakan kemeja dan celana panjang sederhana yang enak dilihat, sesekali ia terlihat sedang tersenyum. Senyumnya manis.<br />
Setelah itu aku semakin sering melihatnya, duduk di meja paling ujung yang sama, sambil memegang handphone dengan kedua tangannya, dengan piring bekas makannya yang tegeletak di depannya. Jam berapapun aku makan di kantin itu, ia pasti sudah selesai makan.<br />
Seiring dengan semakin sering aku memandang dirinya, ingin rasanya aku berkenalan dengannya. Tetapi aku tidak berani, gugup rasanya ingin berkenalan dengan gadis secantik itu. Setiap kali makan aku pasti mencuri-curi pandang untuk melihatnya, sekedar melihat dirinya. Dirinya yang asyik memainkan handphonenya setiap kali saat istirahat siang di kantin.<br />
Hari itu aku melihatnya lagi, masih di meja yang sama. Kali ini ia tidak sendirian, terlihat ada beberapa orang sedang makan bersamanya. Aku tersenyum melihat gadis itu yang terus memainkan handphonenya, seakan tidak peduli pada temannya yang makan bersamanya. Baru sebentar aku mengalihkan pandanganku, dia tidak terlihat, ada orang lain yang sudah duduk di tempatnya tadi, sepertinya teman serombongannya, karena mereka sekarang terlihat asik tertawa bersama-sama. Aku mencoba mencari gadis itu di ruang kantin. Ini baru sebentar, seharusnya aku masih bisa melihatnya di kantin ini, tapi kemana dia? Mengapa ia pergi dan tak terlihat dengan begitu cepat?<br />
Setelah itu aku tidak pergi makan ke kantin selama 2 minggu, cuti kantor dan tugas keluar kota membuatku kangen makan siang ke kantin kantor. Bukan kangen makanan yang dijual disana, tetapi lebih ke kangen melihat gadis yang selalu duduk di meja paling ujung. Sekembalinya dari cuti dan tugas ke luar kota, aku menyempatkan mampir ke kantin kantor untuk makan siang, sambil mencuri pandang melihat si gadis tentunya. Hari ini juga aku melihatnya duduk disana, dengan handphone dan senyuman manisnya. Kali ini kuberanikan diriku duduk di meja yang sama dengan si gadis.<br />
Ia tak peduli dan tidak menimpaliku sama sekali ketika aku duduk. Dia tak menoleh sedikitpun ketika aku mulai makan. Ia tidak tersenyum kepadaku sekalipun ketika aku selesai makan dan mencoba mencari-cari kesempatan untuk memulai pembicaraan dengannya. Entah, mungkin baginya aku ini tidak ada. Dunianya hanya sebatas handphonenya.<br />
Kemudian temanku datang dan duduk di meja yang sama denganku. Kami mulai mengobrol dan tertawa, tapi ya itu, gadis itu tetap tidak peduli, ia hanya asik memainkan handphonenya, tersenyum-senyum kecil sendiri, tertawa sesekali. Ketika temanku pergi untuk membeli minum, kuberanikan diriku menatap langsung si gadis, mencoba tersenyum dan menarik perhatiannya. Dan kali ini ia melihatku.<br />
Ia memandangku dengan tatapan aneh. Seakan tidak percaya. Aku tersenyum kepadanya dan mencoba memikirkan kata-kata yang tepat untuk memulai pembicaraan. Tapi belum sempat aku berkata apa-apa, gadis itu bertanya kepadaku, ”Kau bisa melihatku?” kemudian ia tersenyum kecil, tangannya masih tetap memegang handphonenya. Aku hanya bisa terdiam.<br />
Kemudian temanku datang dan duduk di tempat duduk si gadis yang mendadak hilang begitu saja.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alice4th.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alice4th.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alice4th.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alice4th.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alice4th.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alice4th.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alice4th.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alice4th.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alice4th.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alice4th.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alice4th.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alice4th.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alice4th.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alice4th.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=49&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alice4th.wordpress.com/2010/11/25/gadis-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a26cb5d409105efeba4f24b1ceaaedd7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alice4th</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tulis Surat?</title>
		<link>http://alice4th.wordpress.com/2010/06/26/tulis-surat/</link>
		<comments>http://alice4th.wordpress.com/2010/06/26/tulis-surat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 12:50:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alice4th</dc:creator>
				<category><![CDATA[Simple life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alice4th.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Berapa orang yang suka menulis surat? Jika pertanyaan ini disampaikan ke sekelompok anak-anak sekolah saat ini mungkin akan ada pertanyaan balik: Kirim email maksudnya? Dan aku akan menjawab: bukan email, surat. Kertas, ditulis, dibungkus amplop, dan dikirim dengan prangko/tanpa prangko lewat kantor pos. Dan mungkin selanjutnya hanya tawa yang akan menimpaliku. Ini serius. Berapa orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=44&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berapa orang yang suka menulis surat?</p>
<p>Jika pertanyaan ini disampaikan ke sekelompok anak-anak sekolah saat ini mungkin akan ada pertanyaan balik: Kirim email maksudnya?</p>
<p>Dan aku akan menjawab: bukan email, surat. Kertas, ditulis, dibungkus amplop, dan dikirim dengan prangko/tanpa prangko lewat kantor pos.</p>
<p>Dan mungkin selanjutnya hanya tawa yang akan menimpaliku.</p>
<p>Ini serius. Berapa orang yang masih suka menulis surat? Aku dulu termasuk rajin menulis surat, asal cerita dengan seorang sepupu yang tinggal di lain kota, rasanya menyenangkan juga. Berapa prangko waktu itu? Tidak lebih dari 150 rupiah seingatku, dengan 1 macam desain, foto Pak Harto <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Biasanya apa yang kutulis? Sekedar cerita ringan disekolah, cerita tentang keluarga, dan satu pertanyaan bodoh yang sering kutanyakan kepada penerima suratku yang jauh lebih tua: surat ini … sampai ga?</p>
<p>Jelas – jelas kalau dia balas berarti suratnya sampai…. Yah yah yah, namanya juga anak-anak :p</p>
<p>Berlanjut SMP, aku jarang surat menyurat dengan kakak sepupuku itu, dia sepertinya sudah mulai kuliah, lambat laun kami mulai tidak saling mengirim surat, tapi kemudian aku punya sahabat pena lain, kali ini dari Riau, kami berkenalan lewat tabloid anak-anak yang sudah almarhum saat ini, ia perempuan, dan usianya lebih muda dari aku.</p>
<p>Kami rajin berkirim surat, kadang adik-adiknya ikut serta menuliskan selembar surat untukku. Lucu juga. Kami bahkan sempat iseng surat-suratan menggunakan bahasa Inggris. Ketika aku melanjutkan kuliah ke luar kota pun kuberikan alamat baruku kepadanya, sehingga kami bisa terus mengirim surat.</p>
<p>Semakin lama, frekuensi surat menyurat semakin menurun, tapi dibantu teknologi hp, terkadang kami saling mengirim sms, atau mengirim surat, tidak sering, tapi kami masih sempat bertukar kabar. Cukup sering hingga dia tahu bahwa aku masih tinggal di tempat yang sama, bahwa aku sudah lulus, kemudian bekerja, kemudian pindah pekerjaan baru, bahwa aku masih menggunakan no hp yang sama. Cukup sering hingga aku tahu bahwa ia sudah menyelesaikan SMA nya, sudah bekerja, menikah, dan kabar terbaru bahwa ia baru saja melahirkan anak laki-laki.</p>
<p>Apakah aku tahu seperti apa rupanya?</p>
<p>Aku pernah dikirimi fotonya. Dulu sekali, ia masih SD, dan yang terbaru foto pernikahannya dan ia juga pernah punya fotoku, dulu sekali, saat aku masih SMP. Apakah aku pernah mengiriminya foto baru? Mmm aku tidak ingat.</p>
<p>Begitulah. Surat terakhir yang kuterima darinya berisi foto pernikahannya. Aku tertawa, aku mengenalnya sejak dia SD. Lalu apakah aku pernah bertemu dengannya? Tidak pernah. Aku belum pernah ke Riau. Aku bahkan tidak tahu tentang pernikahan beberapa teman SMU ku. Tapi aku tahu pernikahan sahabat penaku yang belum pernah kutemui sekalipun.</p>
<p>Karena itu aku merasa menulis surat menyenangkan, ada sentuhan pribadi disana, tulisan tangan, cara melipat surat, cara menempelkan prangko, cara menuliskan alamat di amplop, cara meramaikan amplop …</p>
<p>Surat elektronik kurang asik. Buat ucapan? Cari saja template, personalisasi dengan nama dan alamat temanmu. Kirim. Buat email? Bingung cari kata-kata? Copy paste saja dari email sebelumnya, ubah fontnya biar cantik. Kirim. Bikin apapun secara elektronik sekarang ada templatenya.</p>
<p>Kirim sms? Semua singkatan, bikin pusing, beda daerah beda pula singkatan gaul untuk smsnya. Beda generasi beda pula cara penggunaan kosakata smsnya. Tapi terus terang aku suka sms –an, apalagi gratisan, biarlah jempol menari diatas hp. Menguntai tak lebih dari 350 karakter kepada orang diseberang sana, karena kalau karakternya lewat dari itu berarti aku harus membayar 2 sms (lol) pelit banget sih! ;p</p>
<p>Kembali ke pertanyaan semula: Berapa orang yang suka menulis surat?</p>
<p>Jakarta, 28 September 2009</p>
<p>Sesuatu yang terlintas ketika menerima sms pemberitahuan kelahiran seorang bayi.</p>
<p>Al.ice</p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alice4th.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alice4th.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alice4th.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alice4th.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alice4th.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alice4th.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alice4th.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alice4th.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alice4th.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alice4th.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alice4th.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alice4th.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alice4th.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alice4th.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=44&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alice4th.wordpress.com/2010/06/26/tulis-surat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a26cb5d409105efeba4f24b1ceaaedd7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alice4th</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tulang Ayam</title>
		<link>http://alice4th.wordpress.com/2009/09/30/tulang-ayam/</link>
		<comments>http://alice4th.wordpress.com/2009/09/30/tulang-ayam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 15:31:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alice4th</dc:creator>
				<category><![CDATA[Simple life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alice4th.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Tulang ayam itu kecil dan kering. Pertama kali terlihat ketika aku melangkahkan kaki di depan kamar sepupuku yang berada di lantai yang sama. Saat itu terlihat beberapa ekor semut merah berkerumun di sekitarnya. Keningku berkerut sebentar, mencoba menelusuri asal usul sang tulang ayam. Kulirik tong sampah dan teringat akan kucing gendut yang suka gentayangan di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=37&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulang ayam itu kecil dan kering. Pertama kali terlihat ketika aku melangkahkan kaki di depan kamar sepupuku yang berada di lantai yang sama. Saat itu terlihat beberapa ekor semut merah berkerumun di sekitarnya. Keningku berkerut sebentar, mencoba menelusuri asal usul sang tulang ayam. Kulirik tong sampah dan teringat akan kucing gendut yang suka gentayangan di kos setiap malam, rasanya aku tahu dari mana asal tulang itu.</p>
<p>Kubiarkan saja tulang itu disitu. Setiap hari pembantu kos punya jadwal untuk nyapu ngepel. Biar saja. Aku akan menanti pembantu kos menyapu tulang itu dan mengembalikannya kemana ia seharusnya berada. Mari kita lihat seberapa rajin pembantu kos kita dan berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk mengenyahkan sang tulang ayam dari pandanganku.</p>
<p>Sekian lama berselang, kudapati tulang itu telah berpindah, mendekati kamarku. Wew, sepertinya sang tulang tertarik pada kamarku. Lagi-lagi keningku berkerut sebentar, maksudnya berpikir, pembantu kos itu setiap pagi nyapu ngepel ga sih? Kok bisa itu tulang nyasar sampai kesini?</p>
<p>Sekali lagi kubiarkan tulang itu disitu. Menanti tindakan dari pembantu kos untuk menyingkirkannya dari jalan menuju kamarku.</p>
<p>Bukannya menghilang, tulang itu semakin mendekat ke depan pintu kamar di keesokan harinya. Aku nyengir ga jelas. Oke, sederhana saja. Aku semakin curiga pembantu kos tidak melakukan kegiatan yang namanya nyapu ngepel dengan semestinya. Itu tulang ayam. Itu kasat mata, dan sekian hari berlalu sang tulang masih numplek disitu. Semakin mendekat ke kamarku malah.</p>
<p>Sekali lagi. Kubiarkan tulang itu. Yuk kita lihat berapa hari lagi tulang itu akan disapu pembantu kos.</p>
<p>Selanjutnya aku tidak memperhatikan, yang jelas aku tak melihat keberadaan tulang ayam itu, yang semakin lama terlihat semakin kering. Yang terlintas dipikiranku hanya satu: akhirnya pembantu kos melakukan pekerjaannya juga. Menyapu tulang ayam itu dari depan kamarku. Begitulah, aku merasa senang.</p>
<p>Berganti minggu, tibalah saat akhirnya aku harus menunaikan kewajibanku sebagai penghuni kamar kos yang baik, nyapu ngepel kamar sendiri. Jadi kuambil sapu hijau kecil yang nyaris rusakku dan kusapu kamar. Kemudian, kutarik ember biru kecilku yang selama ini tergeletak manis di sebelah rak sepatu, bersiap-siap mengisinya dengan air dan karbol, untuk kemudian dipakai untuk mengepel lantai kamarku.</p>
<p>Lalu dahiku berkerut, lagi.</p>
<p>Ada apa dibalik ember? Bukan udang, karena udang adanya dibalik batu. Yang membuat dahiku berkerut adalah: tulang ayam. Bukan sulap bukan sihir, wew, ternyata selama ini sang tulang ayam bersembunyi dibalik ember biru. Aku tertawa. Ternyata pembantu kos nyapu ngepelnya asal saja. Atau .. tidak nyapu tidak ngepel, sang tulang ayam sebenarnya tertendang ke sana kemari tak tentu arah sampai dia berlabuh dibalik ember?</p>
<p>Kali ini aku tidak diam. Kuambil sapu mantan salah satu teman kos yang ditinggalkannya sebagai oleh-oleh di kos. Kusapu sang tulang yang semakin kering, kuraup dengan pengki hijau butut yang sudah layak diganti dengan yang baru, dan kemudian kukembalikan ke tempatnya berasal: tong sampah.</p>
<p>Semua selesai dalam waktu kurang dari lima menit.</p>
<p>Seharusnya itu kulakukan sejak pertama kali kulihat tulang ayam salah tempat itu. Tapi aku memilih menunggu orang lain melakukannya untukku.</p>
<p>Ternyata kalau ada pekerjaan yang memang bisa kaulakukan sendiri, lebih baik memang dilakukan sendiri. Buat apa menunggu orang lain.</p>
<p>Jakarta 1 September 2009.</p>
<p>Sesuatu yang sebenarnya sudah mau ditulis sudah lama</p>
<p>Al.ice</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alice4th.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alice4th.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alice4th.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alice4th.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alice4th.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alice4th.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alice4th.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alice4th.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alice4th.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alice4th.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alice4th.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alice4th.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alice4th.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alice4th.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=37&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alice4th.wordpress.com/2009/09/30/tulang-ayam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a26cb5d409105efeba4f24b1ceaaedd7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alice4th</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perpisahan</title>
		<link>http://alice4th.wordpress.com/2009/08/26/perpisahan/</link>
		<comments>http://alice4th.wordpress.com/2009/08/26/perpisahan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 16:52:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alice4th</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alice4th.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Dalam diam aku memandangi selembar foto dalam pigura. Foto itu begitu nyata, aku dapat mengingat dengan begitu jelas hari saat foto itu diambil, baju yang kukenakan, baju yang dikenakannya, cuaca pada hari itu, suasana pantai yang kami datangi, suara ombak yang menjadi latar belakangnya. Kututup kedua mataku dan aku terbayang masa-masa itu. Masa saat dia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=29&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam diam aku memandangi selembar foto dalam pigura. Foto itu begitu nyata, aku dapat mengingat dengan begitu jelas hari saat foto itu diambil, baju yang kukenakan, baju yang dikenakannya, cuaca pada hari itu, suasana pantai yang kami datangi, suara ombak yang menjadi latar belakangnya. Kututup kedua mataku dan aku terbayang masa-masa itu. Masa saat dia ada disampingku.</p>
<p>Pandangan mataku beralih ke tepian jendela, melihat beberapa tamu yang datang, suasana muram sedang menaungi rumah ini, dan kurasa juga menaungi aku, menaungi hatiku. Aku tidak akan sama lagi tanpa dirinya.</p>
<p>Sepintas kurasa aku melihatnya, melihat dirinya yang selama ini berada di hatiku, apakah itu benar dia? Tidak salahkah mataku? Ataukah aku merasa melihatnya semata-mata hanya karena aku ingin untuk melihatnya? Ingin dia berada lagi disisiku, menemaniku? Begitu egoisnyakah aku?</p>
<p>Dengan perlahan aku menapaki satu persatu anak tangga, secara refleks pandangan mataku mencari dirinya, mencari dia yang ingin kucari, mencari dia yang selama ini telah mengisi bukan hanya hatiku, tetapi juga seluruh jiwa ragaku. Aku melihat ibunya menangis di ujung ruangan, aku tersenyum pahit, aku juga merasakan hal yang sama seperti dia, merasakan kehilangan, merasakan kehampaan. Semuanya kosong.</p>
<p>Lalu aku melihat adikku, duduk diam disebelah ibuku. Ia diam tanpa bahasa, begitu juga ibuku, seakan mereka berdua sedang duduk beradu diam, tidak ada suara sama sekali, bahkan aku tidak dapat mendengar isak tangis mereka, tak kulihat air mata menetes di pipi mereka. Tapi sorot mata mereka kosong, sama seperti aku, mereka tidak bisa menerima kehilangan ini.</p>
<p>Selagi berjalan mengelilingi rumah aku melihat berbagai orang, ada yang diam, ada yang menangis, aku melihat ayahku berdiri, bercengkrama dengan beberapa anggota keluarga dan beberapa koleganya yang tidak kukenal, semuanya menceritakan tentang kemalangan, kesedihan, kehilangan. Menambah pedih luka di hatiku.</p>
<p>Tapi aku tidak dapat menemukan dia, dia yang kucinta. Dimanakah dia? Bersembunyikah dia dariku? Atau memang aku sudah tidak dapat bertemu lagi dengan dirinya?</p>
<p>Tiba-tiba sudut mataku menangkap bayangannya, kakiku otomatis melangkah kearahnya, menuju dirinya. Aku berhenti disebelah peti mati, lalu diam terpekur selama beberapa saat. Akhirnya, memang hanya kematian yang dapat memisahkan kami. Di ujung ruangan dimana peti mati itu diletakkan ada seorang anak perempuan kecil dengan mata sembab habis menangis, adiknya, adik perempuan kecilnya, yang selalu suka mengekori kami kemanapun kami pergi. Aku tersenyum, anak seusianya mungkin tidak akan merasakan kehilangan ini seperti kami.</p>
<p>Kutatap wajahnya, matanya sedang terpejam, ia seperti sedang tertidur lelap. Walau aku tahu ia tidak sedang tertidur. Ingin aku menyentuhnya saat ini. Ia terasa begitu dekat, sampai rasanya aku dapat merasakan hangat hembusan napasnya, yang aku tahu tidak mungkin. Aku tidak akan pernah dapat merasakan rasa hangat itu lagi.</p>
<p>Sepintas kulihat matanya mengerjap. Apakah ia membuka matanya? Kurasa begitu, rasa rindu berkecamuk dihatiku, rindu melihat matanya, yang berwarna coklat tua, kadang terlihat begitu kelam, kadang terlihat begitu cerah, seakan menggambarkan seluruh isi hatinya. Lalu ia membuka matanya dan menatap lurus kearahku.</p>
<p>Aku tersenyum kecil, wajahnya tetap sama seperti yang kuingat, walau bayang di bawah matanya menandakan malam-malam yang dilaluinya dengan sedikit waktu tidur. Selebihnya ia tetap sama, orang yang kucintai dulu, sekarang, dan selamanya. Tanganku bergerak hendak merengkuhnya, dan seperti yang sudah kuduga, aku tidak bisa.</p>
<p>Aku tahu dia tidak dapat melihatku. Ia menelengkan kepalanya, sesuatu yang sering dilakukannya, lalu berpaling melihat ke arah peti. Dimana aku, atau sesosok yang dulunya aku, terbaring kaku.</p>
<p>Setelah malam ini, aku tidak akan dapat lagi bertemu dengannya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alice4th.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alice4th.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alice4th.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alice4th.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alice4th.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alice4th.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alice4th.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alice4th.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alice4th.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alice4th.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alice4th.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alice4th.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alice4th.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alice4th.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=29&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alice4th.wordpress.com/2009/08/26/perpisahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a26cb5d409105efeba4f24b1ceaaedd7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alice4th</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lantai ke 4</title>
		<link>http://alice4th.wordpress.com/2009/05/29/lantai-ke-4/</link>
		<comments>http://alice4th.wordpress.com/2009/05/29/lantai-ke-4/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 03:41:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alice4th</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alice4th.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Kalau diperhatikan, tentu rasanya aneh melihat sebuah gedung kadang tidak mempunyai lantai 4 atau lantai 13. Tetapi ada gedung yang begitu, dan sebagai ganti lantai tersebut kadang kita menemukan lantai 3a atau lantai 12a. Begitulah, di gedung rektorat kampusku yang berlantai sepuluh, lantai 4-nya tidak ada, hilang di-skip begitu saja, tanpa lantai pengganti. Kalau begitu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=23&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau diperhatikan, tentu rasanya aneh melihat sebuah gedung kadang tidak mempunyai lantai 4 atau lantai 13. Tetapi ada gedung yang begitu, dan sebagai ganti lantai tersebut kadang kita menemukan lantai 3a atau lantai 12a. Begitulah, di gedung rektorat kampusku yang berlantai sepuluh, lantai 4-nya tidak ada, hilang di-skip begitu saja, tanpa lantai pengganti. Kalau begitu seharusnya gedung rektorat ini lebih tepat disebut berlantai sembilan, bukannya sepuluh, bagaimanapun juga kan lantai 4-nya tidak ada. Anehnya, jika kita naik lift, kita dapat melihat angka 4 tercantum dengan jelasnya diatas angka 3 pada tombol lantai lift yang akan dituju, tetapi tombol itu hanya hiasan, tidak dapat ditekan. Penanda lantai di dalam lift juga mencantumkan angka 4, padahal kami semua tahu, lantai 4 itu tidak pernah ada.</p>
<p>Berbagai cerita aneh beredar mengenai lantai 4 ini. Ada cerita beredar bahwa lift bisa berhenti sendiri di lantai 4, walaupun jelas tidak mungkin ada orang yang bisa memencet tombol angka 4 dari dalam lift. Ada yang bilang pintunya tetap tertutup, tapi lift berhenti saat penunjuk lantai menunjuk angka 4. Ada juga yang bilang pintunya terbuka, memperlihatkan sebuah lantai yang seharusnya tidak pernah ada, dan barang siapa yang salah keluar dari lift ke lantai yang tidak ada itu, tidak akan pernah kembali lagi. Hilang begitu saja. Entah mana cerita yang benar.</p>
<p>Cerita yang lain lagi tentang tangga. Selain lift, tentunya ada tangga sebagai sarana naik atau turun dari lantai yang satu menuju lantai yang lainnya. Penggunaan tangga dari lantai 3 ke lantai 5 atau sebaliknya sangat dihindari, kalau tidak terpaksa sebisa mungkin jangan mengakses tangga itu. Gosipnya kadang muncul lantai tambahan diantara dua lantai itu, lantai ke 4, yang jelas sebenarnya tidak pernah ada. Dan lagi, siapapun yang tidak sengaja mampir ke lantai ini, tidak akan pernah kembali. Konon lantai ke 4 ini hanya muncul saat magrib, hari jumat tanggal 13, jumat kliwon, jumat minggu ke 13, hari ke 4 minggu ke 4 pada tahun kabisat, tanggal 29 Februari, dan lain-lain. Agak tidak jelas memang.</p>
<p>Bagiku semua cerita miring tentang lantai ke 4 ini nyaris tidak bisa dipercaya, tidak pernah ada saksi ataupun bukti yang mendukung bahwa lantai ke 4 itu ada. Tidak pernah ada orang yang tahu apakah benar-benar ada orang yang hilang di lantai ke 4. Tidak pernah ada orang yang melihat bahwa lift berhenti di lantai ke 4. Semuanya tidak ada bukti, tapi cerita tetap menyebar. Semua penghuni kampus menghindari naik tangga antara lantai 3 dan lantai 5, ketakutan kalau harus naik lift sendirian jika akan melewati lantai 4, lantai yang sebenarnya tidak pernah ada.</p>
<p>Walau aku tidak bisa mempercayai cerita lantai 4 ini, tetap saja aku melakukan apa yang semua orang lakukan, menghindari naik lift sendirian, menghindari tangga antara lantai 3 dan 5, menghindari naik turun lantai saat magrib, bahkan ada kepercayaan untuk tidak menggunakan baju-baju warna tertentu. Terlepas dari benar tidaknya semua itu, aku tetap saja melakukan semua pantangan.</p>
<p>Sampai hari ini tiba. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, aku benci harus menyelesaikan hukuman membersihkan lab bahasa, hanya karena aku lupa mengumpulkan tugasku hari ini. Ditambah lagi hari ini ada lab bahasa tambahan sampai pukul tujuh. Setengah jam aku mengebut membersihkan dan merapihkan ruangan lab bahasa. Dan sekarang aku mau pulang. Begitu kupikir, sampai aku sadar bahwa aku berada di lantai 7 gedung rektorat, dan liftnya macet. Astaga! Aku harus turun tangga sendirian pada jam segini?? Di tangga yang banyak cerita anehnya itu??</p>
<p>Tapi .. daripada tidak pulang lebih baik aku turun tangga. Aku bersenandung pelan untuk meramaikan suasana yang terlalu sepi, lantai 7 ke lantai 6, lantai 6 ke lantai 5, lalu lantai 5 ke lantai 4 .. eh, 3, seharusnya tidak sulit.</p>
<p>Tidak ada orang di lantai 6 ketika aku sampai di sana, hanya lampu koridor yang menyala, suasananya agak suram, sayup-sayup aku mendengar suara seseorang mengetik, sepertinya masih ada karyawan kampus yang bertugas. Lantai 5 juga sama seperti lantai sebelumnya, kosong, tidak ada tanda-tanda manusia beredar. Mendadak aku kuatir saat aku menuruni tangga dari lantai 5. Lantai berapa yang sebenarnya aku tuju? Lantai 4? Atau lantai 3? Cepat-cepat aku menuruni tangga, lega rasa hatiku saat aku telah sampai di ujung tangga. Segera aku bergegas turun lagi, menuju lantai berikutnya. Hanya dua lantai lagi, pikirku.</p>
<p>Langkahku terhenti dipertengahan anak tangga saat aku menyadari ada suara langkah kaki. Kaki siapa? Tanpa sadar aku menengok, ke arah lantai yang baru saja aku tinggalkan. Lalu aku terkejut karena ada seseorang yang berdiri disana dan tersenyum padaku. Mau tidak mau akupun membalas senyumannya.</p>
<p>“Pulang malam?” tanyanya ramah.</p>
<p>“Kena hukum beresin lab tadi. Lo?” aku bertanya balik. Wajahnya sepertinya familiar, tapi &#8230; dia siapa? Aku tidak ingat.</p>
<p>“Biasa, anak-anak rapat ngurusin acara buat besok, trus seenaknya kabur ninggalin gua. Gua pegang konci, kudu beresin ruangan dulu, baru bisa pulang, mau pulang bareng ga? Tungguin gua bentar ya?”</p>
<p>Aku bimbang. Jalanan di depan kampus terkenal angker dan seram. Baik angker karena banyak setan ataupun seram karena banyak garongnya. Yang terlihat dan tidak terlihat semuanya sama mengerikannya.</p>
<p>“Berapa lama?” aku bertanya</p>
<p>“Ga sampe lima menit, tinggal matiin lampu, cek jendela, kunci pintu. Sebentar kelar lah. Tadi abis dari WC. Untung juga sempet liat lo di tangga, jadi ada temen pulang” jawabnya sambil menyeringai. “Naek dulu aja, sekalian nemenin gua disini, dah ga ada orang soalnya”</p>
<p>“Oke” spontan aku menjawab. Toh aku tidak perlu menunggu terlalu lama. Aku melangkahkan kakiku kembali keatas.</p>
<p>Saat aku telah sampai di lantai itu mendadak aku teringat. Rapat? Buat acara besok? Memang besok ada acara apaan? Biasanya yang suka rapat itu kan anak Senat atau BPM? Senat dan BPM kan tidak punya ruangan di gedung rektorat? Yang ruangannya di gedung rektorat kan anak-anak UKM? Tapi ruangan anak UKM kan adanya di lantai 7? Jadi aku sekarang lagi ada di lantai berapa?</p>
<p>Aku melongo melihat penanda lantai yang ada depan lift, yang tidak terlihat dari anak tangga yang tadi kuturuni. Disitu tertulis jelas, lantai 4. Aku menghela nafas.</p>
<p>“Kenapa?” tanyanya. Seakan bingung melihatku terpaku di depan lift.</p>
<p>“Ga, cuma mau mastiin, berapa lama gua harus nunggu disini” tanyaku datar.</p>
<p>“Ga lama, bentar juga kelarlah” dia tersenyum.</p>
<p>“Trus selama nunggu, ada yang bisa gua kerjakan?”</p>
<p>“Sambil nemenin gua ngobrol aja yuk?” jawabnya sambil tertawa kecil, kemudian dia melangkah menuju ruangan yang berada tepat disebelah lift.</p>
<p>Lalu aku ingat siapa dia. Dia teman seangkatanku. Aku satu kelompok dengannya saat kami menjalani masa-masa ospek bareng. Aku juga ingat bahwa ia sudah meninggal tahun lalu. Andai aku bisa pulang malam ini, aku akan bisa bercerita kepada semua orang, ada apa sebenarnya di lantai 4 gedung rektorat kampusku.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alice4th.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alice4th.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alice4th.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alice4th.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alice4th.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alice4th.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alice4th.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alice4th.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alice4th.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alice4th.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alice4th.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alice4th.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alice4th.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alice4th.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=23&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alice4th.wordpress.com/2009/05/29/lantai-ke-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a26cb5d409105efeba4f24b1ceaaedd7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alice4th</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tempat Bermain</title>
		<link>http://alice4th.wordpress.com/2009/02/11/tempat-bermain/</link>
		<comments>http://alice4th.wordpress.com/2009/02/11/tempat-bermain/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 02:30:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alice4th</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alice4th.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Aku ingat aku pernah memecahkan kaca itu. Tapi kapan? Aku lupa pastinya. Perlahan jemari mungilku menyusuri pinggiran kusen kaca yang berdebu. Aku terbatuk sedikit. Ibu pasti marah kalau tahu aku pergi main ke rumah tua ini. Ibu bilang rumah tua berdebu seperti ini bisa mengganggu pernafasanku. Yah, aku agak sensitif terhadap debu sih, tapi bagaimanapun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=12&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Aku ingat aku pernah memecahkan kaca itu. Tapi kapan? Aku lupa pastinya. Perlahan jemari mungilku menyusuri pinggiran kusen kaca yang berdebu. Aku terbatuk sedikit. Ibu pasti marah kalau tahu aku pergi main ke rumah tua ini. Ibu bilang rumah tua berdebu seperti ini bisa mengganggu pernafasanku. Yah, aku agak sensitif terhadap debu sih, tapi bagaimanapun rumah tua ini adalah tempat bermain yang paling kusukai. Ruangannya yang kosong dan luas sangat asyik dijadikan tempat bermain. Aku sangat suka berpura-pura menjadi seorang penjelajah, terdampar dan bertualang di suatu negri antah berantah yang sama sekali tidak aku kenal. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Langkah-langkah kakiku menimbulkan suara bergema di dalam rumah, tap, tap, tap, aku bersenandung pelan, melantunkan sebuah lagu yang begitu sering kunyanyikan, sampai aku lupa apa judulnya. ”whiiiii” aku menirukan suara mesin pesawat terbang, kedua tanganku terentang, langkah kakiku semakin kencang. Senang rasanya bermain sendirian seperti ini, membuatku mengabaikan semua yang ada disekitarku, masalah di rumah, masalah di sekolah, masalah dikepalaku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Krek” aku mendengar suara derit lantai rumah tua itu. Aku berhenti berlari. ”Siapa itu?” tanyaku lantang, cenderung marah, merasa daerah kekuasaanku diambil orang. ”Siapa?” ulangku lagi karena tidak ada seorangpun yang menyahut.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Aku berjalan menghampiri asal suara. Aku tahu betul semua bagian rumah ini, satu-satunya lantai yang berderit dirumah ini adalah lantai di depan pintu rumah. Dan benar saja disana aku menemukan seorang lelaki yang agak tua, sedang berdiri canggung.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Om siapa? Mau apa kemari?” tanyaku sok galak. Entah apa maunya om aneh ini. ”Risa&#8230;” om itu menyebut namaku, pelan memang, tapi aku dapat mendengarnya dengan jelas, wajahnya tampak kebingungan. ”Iya om, ada apa?”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Tidak, hanya mampir” jawabnya aneh, pandangan matanya tidak pernah beralih dariku, aku mulai berasa bingung, sebenarnya apa sih maunya om ini? Terus kenapa ia bisa tahu namaku?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Oh, mampir kok ke rumah tua begini?” komentarku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Kamu juga, main kok ditempat begini&#8230;” sahut om itu tak mau kalah. Aku merengut, kesal.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Terserah aku dong om,” jawabku sekenanya. Alisku bertaut, kok kayaknya aku kenal om ini yah? Om ini siapa sih? Aku pernah lihat dia dimana sebenarnya?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Kalau gitu om juga terserah om dong?” Ia menimpali aku lagi, wajahnya kini dihiasi seulas senyum, tapi matanya menimbulkan kesan sedih.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Ini wilayah kekuasaanku tahu!” aku mulai melotot, merengut ke arah om aneh itu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Risa, Risa, kamu memang selalu begitu ya,” om itu berkata, tangannya terjulur kearah kepalaku, entah mengapa aku diam saja, ada rasa nyaman saat telapak tangannya menyentuh kepalaku. Om itu lalu diam, wajahnya sekarang menampakkan rasa terkejut.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Kenapa om?” </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Risa, kamu main disini terus? Ga pulang? Ga dicari ayah dan ibu?” tanyanya pelan, dengan tangannya masih menumpang di atas kepalaku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">”Risa mau pulang kok, bentar lagi,” jawabku segera, tapi lalu aku mengerenyit. Sudah berapa lama ya aku main disini? Ayah dan ibu kuatir tidak ya aku belum belum pulang?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Om itu mengangkat tangannya dari kepalaku <span> </span>“Om sendiri? Mau di sini sampai kapan?” tanyaku asal, entah mengapa ada rasa kecewa ketika om itu menarik tangannya dari atas kepalaku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Sebentar lagi juga pulang, om ditunggu istri om dirumah,” jawabnya pelan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Ditunggu anak om juga?”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Dia belum pulang, kami menunggunya pulang.”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Oh.. Risa pulang sekarang saja deh. Nanti dicari ibu,” kataku sambil tersenyum, memperlihatkan deretan gigi depanku yang ompong satu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Iya, hati – hati di jalan,” om itu berkata sambil tersenyum, matanya masih menyiratkan kesedihan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Daaah om,” kataku sambil berjalan keluar rumah, “Sampai jumpa lagi,” kali ini aku melambaikan tangan kepadanya. Aku bisa melihat dia membalas lambaian tanganku.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Lalu aku mulai berlari-lari kecil kembali menyenandungkan laguku yang biasa, sambil sedikit memikirkan alasan apa yang harus aku katakan kepada ibu kenapa aku terlambat pulang, juga masalah kaca yang pecah itu. Aku sempat berbalik dan melihat bahwa om itu masih berdiri di tempatnya tadi, entah apa yang ditunggu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Laki-laki itu menghela nafas ketika bayangan anak perempuan itu mulai tidak terlihat lagi. Perlahan air matanya mengalir. Ia tidak percaya ia bisa melihat Risa lagi. Risa putrinya yang tidak pernah kembali sejak pergi bermain sendiri. Risa yang diperkirakan hilang diculik orang ketika sedang sendirian di rumah tua. Rumah tua yang ia datangi karena berbagai desas desus tentang terlihatnya seorang anak perempuan kecil yang suka bermain sendirian. Rumah tua dimana mayat putrinya diketemukan sepuluh tahun yang lalu.</span></span></span><span lang="IN"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alice4th.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alice4th.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alice4th.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alice4th.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alice4th.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alice4th.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alice4th.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alice4th.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alice4th.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alice4th.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alice4th.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alice4th.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alice4th.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alice4th.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=12&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alice4th.wordpress.com/2009/02/11/tempat-bermain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a26cb5d409105efeba4f24b1ceaaedd7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alice4th</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sedih</title>
		<link>http://alice4th.wordpress.com/2009/01/20/sedih/</link>
		<comments>http://alice4th.wordpress.com/2009/01/20/sedih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 09:43:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alice4th</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alice4th.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Gadis itu duduk sendirian di tepi sungai, termenung, tidak peduli walaupun angin kencang bertiup. Wajahnya muram, melukiskan suatu bentuk kesedihan yang tidak dapat digambarkan oleh kata-kata. Air mata mengaliri kedua pipinya. Uap menghembus dari mulutnya. Cuaca memang sangat dingin. Entah apa yang merasuki pikirannya waktu itu. Yang jelas ia sangat kecewa, ia telah dikhianati oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=8&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:170%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Gadis itu duduk sendirian di tepi sungai, termenung, tidak peduli walaupun angin kencang bertiup. Wajahnya muram, melukiskan suatu bentuk kesedihan yang tidak dapat digambarkan oleh kata-kata. Air mata mengaliri kedua pipinya. Uap menghembus dari mulutnya. Cuaca memang sangat dingin.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:170%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Entah apa yang merasuki pikirannya waktu itu. Yang jelas ia sangat kecewa, ia telah dikhianati oleh orang yang paling dicintainya, yang paling dipercayainya. Kekecewaannya telah membutakan mata dan pikirannya. Hatinya sakit. Hanya itu yang dirasakan olehnya. Ketika setitik kesadarannya kembali, ia, masih tersedu sedan dan masih kehilangan pikiran jernihnya, terkejut.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:170%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kedua belah tangannya ternyata basah. Basah bersimbah darah. Cairan lengket itu melekat di mana-mana, di kedua tangannya, di bajunya, di celananya, bahkan di rambutnya. Kepalanya terasa berat, kesedihan karena sakit hati yang tadi dirasakannya seakan menguap begitu saja digantikan oleh rasa takut dan terkejut. Apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Darah siapa? Darah siapa yang telah mengotori tubuh dan pakaiannya itu? Mengapa darah itu bisa menempel ditubuhnya??</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:170%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ia kalap, mencoba mencari apa yang mungkin menjadi sumber dari darah yang mengotori dirinya. Sekilas ia mengingat sesuatu. Ia ingat, bagaimana hari itu ia datang ke rumah kekasihnya, tanpa pemberitahuan lebih dulu, untuk memberikan kejutan kepada kekasihnya yang sedang berulang tahun. Ia ingat bagaimana ia berhasil mendapat kereta yang lebih pagi supaya ia dapat tiba lebih cepat di rumah kekasihnya. Ia ingat betapa bahagianya dia waktu itu, dan betapa bahagianya ia pikir kekasihnya nanti saat melihatnya datang. Tetapi ternyata perkiraannya itu salah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:170%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kekasihnya terkejut melihatnya datang, sama terkejutnya dengan dirinya yang melihat kekasihnya sedang bersama orang lain – perempuan lain. Air matanya tumpah seketika, ia menangis, kekasihnya panik, berusaha menenangkan dirinya yang histeris, perempuan itu panik, berusaha merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakan, ia panik, mencoba mencoba menyangkal apa yang sudah ia lihat.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:170%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kemudian segalanya kembali gelap, ia lupa apa yang terjadi sesudahnya. Entah apakah ia tidak bisa mengingatnya atau ia tidak mau mengingatnya. Matanya kembali mencari-cari, tetapi ia tidak berhasil menemukan apa yang mungkin menjadi semua sumber darah yang berceceran itu. Ia menutup matanya sebentar. Apa? Apa yang sebenarnya ia cari? Sesosok mayatkah? </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:170%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ia kembali diam menatap sungai. Suasana di tepi sungai itu terasa begitu sepi. Hening, tidak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan disana, selain air sungai yang mengalir cukup deras. Suara-suara yang ia dengar hanyalah suara angin berhembus dan suara dedaunan yang saling bergesekan karena diterpa angin. Air matanya lagi-lagi mengalir karena mengingat kekecewaannya atas pengkhianatan kekasihnya tercinta.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:170%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kekasihnya mula-mula terkejut dan berusaha menenangkan isak tangisnya, tetapi itu hanya sebentar, karena setelah itu kekasihnya mulai marah, marah dan menyalahkan dia kenapa datang tanpa pemberitahuan. Ia menangis, tetap menangis, tak peduli bagaimana kekasihnya terus membujuk. Akhirnya kekasihnya kehilangan kesadaran, kekasihnya marah dan mulai memukulinya. Ia kaget, tidak menyangka kekasihnya akan melakukan hal seperti itu pada dirinya, emosinya tak terkendali. Perasaannya campur aduk antara sedih, marah, dan kecewa. Ia jadi membenci kekasihnya, kenapa kekasihnya mengkhianatinya? Padahal ia selalu beranggapan bahwa kekasihnya mencintainya. Kalau memang cinta,<span>  </span>bagaimana mungkin kekasihnya berbuat sesuatu yang menyakitkan hatinya – menduakannya dengan perempuan lain??</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:170%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ia mulai melempari sungai dengan batu-batu kecil yang terdapat di sekitar tempatnya duduk. Suara air saat dilempari batu memenuhi pikirannya. Satu batu, dua batu, ia menghitung dalam hati, tiga batu, empat batu. Hening. Ia berhenti melempari sungai. Otaknya kembali mengingat sesuatu. Pisau.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:170%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ia ingat ia mengambil pisau, mengarahkannya ke kekasihnya dan perempuan lain itu dengan penuh kemarahan. Perempuan itu kaget dan takut, perempuan itu mencoba melarikan diri. Dengan membabi buta ia mengacung-acungkan pisaunya. Perempuan itu lalu menjerit. Lengan perempuan itu kini bersimbah darah. Pisau yang digenggamnya telah menggores lengan perempuan itu cukup dalam. Ia kaget, tidak mengira ia akan melukai seseorang dengan pisau itu. Selintas ia menyesal, tetapi kemudian rasa penyesalan itu hilang, ini bukan salahnya, demikian ulangnya dalam hati, ini salah kekasihnya, ini salah laki-laki yang mengkhianatinya, ini salah perempuan itu, bukan salahnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:170%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ia sedikit menengadah ketika merasakan sesuatu dari langit. Hujan. Bibirnya membentuk seulas senyum. Bahkan langit pun menangis atas kemalangan yang menimpanya, bahkan langitpun berada dipihaknya. Matanya beralih dari langit menuju sungai yang mengalir semakin deras. Apakah ia telah membunuh kekasih dan perempuan itu? Apakah ia telah membuang mayat mereka berdua ke dalam sungai? Itukah yang telah membuatnya merenung di tepi sungai saat ini?<span>  </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:170%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Hujan semakin deras, otaknya berpikir semakin keras. Apakah yang dipikirkannya itu benar? Bahwa ia telah membunuh dua orang yang mengkhianatinya. Dikhianati oleh kekasih yang dicintainya? Semakin keras ia berpikir semakin sakit kepalanya.<span>  </span>Sudut matanya menangkap sesuatu. Seuntai kalung, tergeletak begitu saja dipinggir sungai, tersangkut di rerumputan. Ia bergerak untuk meraihnya, menggenggamnya dengan sebelah tangan, kemudian memperhatikan kalung itu, berpikir. Tiba-tiba dia terdiam, ia berhenti berpikir, bibirnya menyunggingkan seulas senyum. Senyum pahit.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:170%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ia ingat apa yang terjadi. Ia ingat bagaimana pisau di tangannya telah melukai perempuan itu. Ia juga ingat bagaimana kekasihnya sangat marah dan mulai memaksa merebut pisau itu dari tangannya. Ia ingat bagaimana ia melawan kekasihnya, ia tidak mau menyerahkan pisau itu kepada kekasihnya. Ia ingat bagaimana ia berpikir bahwa ia adalah korban dalam peristiwa ini dan kekasihnya serta perempuan itu adalah pelakunya, orang jahatnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:170%;text-align:justify;margin:0;"><span lang="IN"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ia ingat pisau itu menusuk di perut. Darah dimana-mana, mengotori tangan, rambut, dan pakaiannya. Ia menangis. Kalung itu, adalah miliknya, hadiah dari seseorang yang dulunya merupakan kekasihnya. Ia yang sekarang tidak mungkin memilikinya lagi. Semuanya sudah jelas. Kekasihnya telah menusukkan pisau itu ke perutnya. Darah yang melekat di tubuhnya itu adalah darahnya. Ia yang sekarang mungkin sudah terbawa derasnya air sungai. Entah kemana.</span></span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alice4th.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alice4th.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alice4th.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alice4th.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alice4th.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alice4th.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alice4th.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alice4th.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alice4th.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alice4th.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alice4th.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alice4th.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alice4th.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alice4th.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=8&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alice4th.wordpress.com/2009/01/20/sedih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a26cb5d409105efeba4f24b1ceaaedd7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alice4th</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>To be unseen</title>
		<link>http://alice4th.wordpress.com/2009/01/19/to-be-unseen/</link>
		<comments>http://alice4th.wordpress.com/2009/01/19/to-be-unseen/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jan 2009 11:01:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alice4th</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alice4th.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[To be unseen In my mind there’re always thoughts about being unseen. Being unseen seems so remarkable, amazing, and interesting! Many things can be done if you’re unseen. No one will disturb or annoy you if no one can see you! That’s what I always think of. I’m a father of two active children, a [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=3&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div></div>
<p><span style="font-size:x-small;font-family:Arial;"></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:medium;font-family:Times New Roman;">To be unseen</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:medium;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:medium;font-family:Times New Roman;">In my mind there’re always thoughts about being unseen. Being unseen seems so remarkable, amazing, and interesting! Many things can be done if you’re unseen. No one will disturb or annoy you if no one can see you! That’s what I always think of.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:medium;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:medium;font-family:Times New Roman;">I’m a father of two active children, a husband of a talkative wife, and an employee of a disturbing employer. I was born nearly 45 years ago, in a small, really small, country. My father was a farmer, and so does my grandfather. We did farming for our living, and I don’t like it al all. That’s why I go to this city and start to find a good career.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:medium;font-family:Times New Roman;">It wasn’t easy to find a good job if you didn’t have high education. Being graduated from unrecognized local high school with no special ability, I found it hard to make my stomach full. But I kept on trying. And finally I found a job as a dull clerk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:medium;font-family:Times New Roman;">Actually it can’t be count as a clerk. I’m a slave. That’s it. There is no other closer word to describe my job. My employer gave me so many kinds of job to do. From day to day my job descriptions were longer, longer, and longer. And still, there was no change in my salary. He just paid me the same salary as the beginning. No raise at all. But I can’t quit. I need the money anyway.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:medium;font-family:Times New Roman;">I met Sarah at a small café near my office. She was a nice girl. She always smiled sweetly, talked gently, and made me happy. That’s why I marry her. But things changed since the day I say I do at the church. She started to show her egoism. Her ego was so high that I started to regret my decision.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:medium;font-family:Times New Roman;">Then I had my first son. He had just the same black eyes as mine. His small fingers kept on trying grabbing mine, his small mouth kept on muttering something we didn’t understand. And I was so grateful for that. My second child is a girl. She looked alike her granny much. We adored her smile much, it just the same as her mother’s. The smile that made me falls in love. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:medium;font-family:Times New Roman;">But they’re not little babies anymore now. Tom has grown into a young adult now, he almost finish his study in the university. Susan will finish her high school this year. They only pay a little attention to me nowadays. But maybe it’s better. They don’t annoy me much, however.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:medium;font-family:Times New Roman;">I hate being annoyed, that’s why I don’t like to go home on busy hour. The bus is always crowded. They push you here and there, and if you are unlucky, puff, there goes your wallet or cell phone.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:medium;font-family:Times New Roman;">But one day, today, was different. The bus wasn’t that full. I even got a place to sit. Whew, it makes me feel better after a bad day at the office and the awful car that speed on the road just when I about to cross. I was shocked, indeed, but feel relieved after that. Once I sat down, I felt sleepy. I yawned several times when I prepared to pay the bus fare. But the bus conductor didn’t ask me for the fare. He just passed me when he was asking other passengers for the bus fee. I smiled a little; sometimes he would even forget taking fares from some passengers.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:medium;font-family:Times New Roman;">When he kept on passing me, I felt a sleep. I can pay him the fee when I get down anyway. I opened my eyes when the bus was approaching my neighborhood. A bit dizzy because of the sudden awaken; I jumped off the bus right after the bus stop. I forgot to pay the fare. I’ve just realized it when I was walking home from the bus stop and the bus has set off. I shook my head several times; guess that getting older and older makes me easier to forget things. I felt my body is covered by pain, but anyway I have to resist it. I stretched my body as I was standing in front of my front door. I opened the door after cleaning my shoes on the doormat, half expecting my wife was there to welcome me, but she wasn’t there. I raised my eyebrows. This was unusual. Usually she will welcome me with a ‘nice’ and long speech about our children, or a hot gossip about our neighbors. But I didn’t hear her usual gossiping tone today. Where’s she? It is Friday. She’s always at home around this time at Friday, updating me with the newest gossip.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:medium;font-family:Times New Roman;">I closed the door behind me, said nothing and stepped in. My house was never silent. The sound of the television Tom’s watching, the sound of Susan giggling on the phone, the sound of my wife chattering around. Just like that. I can hear Sarah’s voice chatting on the phone from the kitchen, guess that explains why she wasn’t here to tell me some gossip. I don’t like to hear gossips actually, but still, I found something’s missing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:medium;font-family:Times New Roman;">I left my goods on the desk near the front door and walked to the living room. I saw Tom watching his favorite music channel. I smiled a little; he even doesn’t bother to welcome his father home. I didn’t see Susan, maybe she was upstairs, in her room that nobody can get in without her permission.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:medium;font-family:Times New Roman;">I went to the kitchen to get myself something to drink. I saw Sarah walking beside me, toward the living room, but she said nothing. She just passed me. I turned my head after she did that, confused. What’s wrong with today? Guess that I’m being unseen today. No one annoy me since I went home from the office today. I sighed and kept on walking to the kitchen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:medium;font-family:Times New Roman;">Then I heard something shocking. I heard Susan’s crying. I ran to the living room where I heard the voice came from. And when I’m panting near the bookshelf I can see Tom, Susan, and Sarah, all of them watching the news on TV. I can see the fear in their faces and tears in their eyes as the news played a video about an accident happened just this evening. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:medium;font-family:Times New Roman;">One person died in that accident. A man named Thomas. Suddenly I realized the reason why everyone didn’t talk to me, the reason why they act as they didn’t see me. I’m unseen. I died in that accident this afternoon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em></em></p>
<p></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alice4th.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alice4th.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alice4th.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alice4th.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alice4th.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alice4th.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alice4th.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alice4th.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alice4th.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alice4th.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alice4th.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alice4th.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alice4th.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alice4th.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=3&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alice4th.wordpress.com/2009/01/19/to-be-unseen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a26cb5d409105efeba4f24b1ceaaedd7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alice4th</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://alice4th.wordpress.com/2009/01/19/hello-world/</link>
		<comments>http://alice4th.wordpress.com/2009/01/19/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jan 2009 10:25:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alice4th</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is my first post. I edit this and start blogging .. actually I&#8217;m &#8216;uploading&#8217; my short strories here hahaha, so please do leave me any comment, hope that it can make my writing better Thank You :p<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=1&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is my first post. I edit this and start blogging .. actually I&#8217;m &#8216;uploading&#8217; my short strories here <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  hahaha, so please do leave me any comment, hope that it can make my writing better <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Thank You :p</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alice4th.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alice4th.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alice4th.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alice4th.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alice4th.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alice4th.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alice4th.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alice4th.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alice4th.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alice4th.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alice4th.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alice4th.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alice4th.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alice4th.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alice4th.wordpress.com&amp;blog=6232250&amp;post=1&amp;subd=alice4th&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alice4th.wordpress.com/2009/01/19/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a26cb5d409105efeba4f24b1ceaaedd7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alice4th</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
