Pusat Perbelanjaan
Berapa jarak dari sini sampai ke sana? Sepertinya tidak begitu jauh. Atau memang jauh? Pada saat seperti ini, jarak kelihatannya relatif. Relatif tergantung dari sisi yang mengukur. Hitungan kasar saja, aku berada di lantai 5. Jika satu lantai tingginya sekitar 4 meter, berarti saat ini aku ada di ketinggian 20 meter. Atau hanya 16 meter? Karena aku tidak berada di langit-langit lantai 5, aku ada di dasarnya. Tapi biasanya kan sebelum lantai 1 masih ada yang namanya ground floor atau upper ground? Tapi apakah bangunan ini juga menetapkan aturan seperti itu? Aku tidak ingat. Tidak memperhatikan sewaktu aku naik ke lantai ini.
Seorang anak kecil lewat sambil digandeng oleh seseorang, sepertinya baby sitternya. Mana ibunya? Aku tidak melihatnya. Ah, ada, ibunya berjalan agak jauh dibelakang, sibuk berbicara di telepon gengam, cincin-cincin di jarinya gemerlapan ketika ia berjalan. Anak kecil itu sekilas menoleh ke arahku, dia tersenyum, lalu melambaikan tangan ke arahku. Aku membalas senyumannya, tapi tidak lambaiannya, tangan kananku sakit. Kulihat si baby sitter menariknya dan mengajaknya berbicara, membuatnya menoleh ke arah lain.
Seorang sekuriti lewat didekatku. Suara dari handy talkynya lumayan berisik. Ia lewat sambil sekilas melihat keadaan sekitarnya. Sesekali ia menjawab panggilan di handy talkynya, tertawa sebentar dengan rekannya yang tidak ada didekatnya, lalu kembali berjalan lagi. Berpatroli singkat. Kulihat juga ia mengecek telepon gengamnya, sepertinya ada sms yang masuk, karena setelah itu aku melihat ia mengetik sesuatu di telepon gengamnya. Sepertinya sedang membalas sms yang dikirimkan kepadanya.
Sepasang muda mudi lewat sambil bergandengan tangan. Yang laki-laki membawa beberapa tas belanjaan. Sepertinya mereka berdua berpacaran. Yang perempuan sedang bercerita tentang sesuatu dengan menggebu-gebu. Tapi yang laki-laki kelihatannya tidak begitu tertarik. Ia hanya menimpali sesekali, terkadang diam-diam melirik ke telepon gengamnya, mengecek apakah ada panggilan masuk atau sms ke sana. Yang perempuan tidak begitu memperhatikan, ia tetap bercerita, kemudian menarik yang laki-laki ke sebuah toko pakaian, sampai situ saja, aku tidak dapat melihat kemana mereka pergi setelah itu.
Segerombolan anak-anak lewat sambil cekikikan, sepertinya mereka masih SMP, yang perempuan kebanyakan menggunakan bando berpita dan gelang warna warni, yang laki –laki kebanyakan bergaya seperti penyanyi remaja yang sedang digemari saat ini. Mereka berisik, selalu berisik. Aku kurang suka jika melihat segerombolan anak-anak seperti mereka melintas didekatku. Entah mengapa, tapi kurasa mereka mengganggu.
Lalu perempuan itu datang. Berjalan pelan kearahku. Ia sendirian. Ia sempat termenung sebentar di sebelahku sebelum melihatku dan tersenyum singkat. Sambil tersenyum, ia menganggukkan kepalanya sedikit, seolah mengucapkan salam. Aku membalas pelan anggukannya. Dan kemudian kulihat dia melompat.
Pusat perbelanjaan itu biasanya ramai di hari Sabtu dan Minggu. Aku ingat peristiwa itu. Saat aku melihatnya lompat disebelahku. Menjatuhkan tubuhnya dari lantai 5, jatuh begitu saja menurut hukum gravitasi. Orang-orang berteriak kaget ketika melihatnya menjatuhkan diri, lebih kaget lagi saat tubuh perempuan itu menghantam lantai. Ia tewas seketika. Beberapa anak-anak menjerit ketakutan, begitu pula beberapa orang perempuan. Tapi ada juga yang berkerumun mendekati mayat itu. Berbisik-bisik heran dan tidak mengerti, memandang bingung ke atas, ke arah lantai 5, tempat perempuan itu melompat. Ada juga yang menyempatkan diri memotret mayat itu.
Pihak sekuriti pusat perbelanjaan datang dan mengamankan lokasi. Suasana terlihat ricuh di lantai dasar. Orang-orang berkerumun dan saling bertanya pertanyaan yang sama: ”Ada apa?” Peristiwa lompatnya perempuan itu menjadi perbincangan hangat di media massa sampai seminggu setelahnya. Pengunjung yang melewati tempat jatuhnya si perempuan seringkali berbisik-bisik, sambil menunjuk-nunjuk tempat perempuan itu menjatuhkan diri.
Tapi kali ini, ketika kulihat perempuan itu jatuh. Aku nyaris tidak merasakan apa-apa. Ini bukan pertama kalinya kulihat ia melakukannya. Sudah berapa kali aku melihatnya? Tidak ingat. Tapi jelas aku ingat kalau ini bukan yang pertama.
Setelah perempuan itu datanglah seorang pria paruh baya. Wajahnya lesu. Ia melirikku sekilas. Lalu melompat. Aku hanya memandangnya, memperhatikan bagaimana ia jatuh dan menghantam lantai dasar. Lalu aku juga melompat.
”Eh lo tau ga, di lantai 5 pusat perbelanjaan ini kan ada tempat yang dipagerin? Disitu katanya 2 orang pernah bunuh diri loh”
”Gue keknya pernah denger deh”
”Iya, ada bapak-bapak gitu, katanya stress karena utangnya banyak, terus ada anak cewek yang bunuh diri, katanya sih gara-gara diputusin pacarnya”
”Iiihh! Serem amat sih?”
”Iya. Serem tuh, makanya dipagerin, soalnya tempatnya katanya jadi berhantu. 2 orang yang lompat bunuh diri itu dari tempat yang sama loh”
”Eh, ngomong-ngomong masalah tempat bunuh diri itu, benernya ada 3 orang tauk yang pernah lompat dari sana”
”Eehh? Setau gue cuma 2 tuh?”
”Iya, setau gue juga cuma 2”
”Ada 3 kok. Yang satu lagi itu lelaki deh, ga jelas bunuh dirinya kenapa. Keluarganya ga mau bilang anaknya bunuh diri. Jadi dibilangnya jatuh gitu?”
”Ah, ngarang ya?”
”Ga lah, masa gue ngarang si?”
”Halah, udah de ga usa dibahas lagi, kata temen gue yang bisa liat, arwah mereka masi disitu tau, loncat terus dari tempat yang sama, setiap hari”
”Hiiyyyy! Yang bener aje!”
”Beneran, makanya uda, ga usa dibahas lagi…”
November 16, 2011 at 12:37 am
wew…inspirasi dari mana ini? atau beneran nih
November 18, 2011 at 3:39 pm
Hahaha… ditulis waktu lagi bosen dan ingat film The Eye adegan… ” Kakak.. lihat raporku tidak? ” :p