Gadis Itu

Pertama kali aku melihat gadis itu duduk di meja paling ujung di kantin kantor. Ia duduk diam sendirian, berkutat dengan handphone yang digenggamnya dengan kedua tangan, piring bekas makannya masih terletak di depannya. Gadis itu panjang rambutnya sedang, hitam lurus menjuntai dengan rapi, ia mengenakan kemeja dan celana panjang sederhana yang enak dilihat, sesekali ia terlihat sedang tersenyum. Senyumnya manis.
Setelah itu aku semakin sering melihatnya, duduk di meja paling ujung yang sama, sambil memegang handphone dengan kedua tangannya, dengan piring bekas makannya yang tegeletak di depannya. Jam berapapun aku makan di kantin itu, ia pasti sudah selesai makan.
Seiring dengan semakin sering aku memandang dirinya, ingin rasanya aku berkenalan dengannya. Tetapi aku tidak berani, gugup rasanya ingin berkenalan dengan gadis secantik itu. Setiap kali makan aku pasti mencuri-curi pandang untuk melihatnya, sekedar melihat dirinya. Dirinya yang asyik memainkan handphonenya setiap kali saat istirahat siang di kantin.
Hari itu aku melihatnya lagi, masih di meja yang sama. Kali ini ia tidak sendirian, terlihat ada beberapa orang sedang makan bersamanya. Aku tersenyum melihat gadis itu yang terus memainkan handphonenya, seakan tidak peduli pada temannya yang makan bersamanya. Baru sebentar aku mengalihkan pandanganku, dia tidak terlihat, ada orang lain yang sudah duduk di tempatnya tadi, sepertinya teman serombongannya, karena mereka sekarang terlihat asik tertawa bersama-sama. Aku mencoba mencari gadis itu di ruang kantin. Ini baru sebentar, seharusnya aku masih bisa melihatnya di kantin ini, tapi kemana dia? Mengapa ia pergi dan tak terlihat dengan begitu cepat?
Setelah itu aku tidak pergi makan ke kantin selama 2 minggu, cuti kantor dan tugas keluar kota membuatku kangen makan siang ke kantin kantor. Bukan kangen makanan yang dijual disana, tetapi lebih ke kangen melihat gadis yang selalu duduk di meja paling ujung. Sekembalinya dari cuti dan tugas ke luar kota, aku menyempatkan mampir ke kantin kantor untuk makan siang, sambil mencuri pandang melihat si gadis tentunya. Hari ini juga aku melihatnya duduk disana, dengan handphone dan senyuman manisnya. Kali ini kuberanikan diriku duduk di meja yang sama dengan si gadis.
Ia tak peduli dan tidak menimpaliku sama sekali ketika aku duduk. Dia tak menoleh sedikitpun ketika aku mulai makan. Ia tidak tersenyum kepadaku sekalipun ketika aku selesai makan dan mencoba mencari-cari kesempatan untuk memulai pembicaraan dengannya. Entah, mungkin baginya aku ini tidak ada. Dunianya hanya sebatas handphonenya.
Kemudian temanku datang dan duduk di meja yang sama denganku. Kami mulai mengobrol dan tertawa, tapi ya itu, gadis itu tetap tidak peduli, ia hanya asik memainkan handphonenya, tersenyum-senyum kecil sendiri, tertawa sesekali. Ketika temanku pergi untuk membeli minum, kuberanikan diriku menatap langsung si gadis, mencoba tersenyum dan menarik perhatiannya. Dan kali ini ia melihatku.
Ia memandangku dengan tatapan aneh. Seakan tidak percaya. Aku tersenyum kepadanya dan mencoba memikirkan kata-kata yang tepat untuk memulai pembicaraan. Tapi belum sempat aku berkata apa-apa, gadis itu bertanya kepadaku, ”Kau bisa melihatku?” kemudian ia tersenyum kecil, tangannya masih tetap memegang handphonenya. Aku hanya bisa terdiam.
Kemudian temanku datang dan duduk di tempat duduk si gadis yang mendadak hilang begitu saja.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.