Sedih
Gadis itu duduk sendirian di tepi sungai, termenung, tidak peduli walaupun angin kencang bertiup. Wajahnya muram, melukiskan suatu bentuk kesedihan yang tidak dapat digambarkan oleh kata-kata. Air mata mengaliri kedua pipinya. Uap menghembus dari mulutnya. Cuaca memang sangat dingin.
Entah apa yang merasuki pikirannya waktu itu. Yang jelas ia sangat kecewa, ia telah dikhianati oleh orang yang paling dicintainya, yang paling dipercayainya. Kekecewaannya telah membutakan mata dan pikirannya. Hatinya sakit. Hanya itu yang dirasakan olehnya. Ketika setitik kesadarannya kembali, ia, masih tersedu sedan dan masih kehilangan pikiran jernihnya, terkejut.
Kedua belah tangannya ternyata basah. Basah bersimbah darah. Cairan lengket itu melekat di mana-mana, di kedua tangannya, di bajunya, di celananya, bahkan di rambutnya. Kepalanya terasa berat, kesedihan karena sakit hati yang tadi dirasakannya seakan menguap begitu saja digantikan oleh rasa takut dan terkejut. Apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Darah siapa? Darah siapa yang telah mengotori tubuh dan pakaiannya itu? Mengapa darah itu bisa menempel ditubuhnya??
Ia kalap, mencoba mencari apa yang mungkin menjadi sumber dari darah yang mengotori dirinya. Sekilas ia mengingat sesuatu. Ia ingat, bagaimana hari itu ia datang ke rumah kekasihnya, tanpa pemberitahuan lebih dulu, untuk memberikan kejutan kepada kekasihnya yang sedang berulang tahun. Ia ingat bagaimana ia berhasil mendapat kereta yang lebih pagi supaya ia dapat tiba lebih cepat di rumah kekasihnya. Ia ingat betapa bahagianya dia waktu itu, dan betapa bahagianya ia pikir kekasihnya nanti saat melihatnya datang. Tetapi ternyata perkiraannya itu salah.
Kekasihnya terkejut melihatnya datang, sama terkejutnya dengan dirinya yang melihat kekasihnya sedang bersama orang lain – perempuan lain. Air matanya tumpah seketika, ia menangis, kekasihnya panik, berusaha menenangkan dirinya yang histeris, perempuan itu panik, berusaha merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakan, ia panik, mencoba mencoba menyangkal apa yang sudah ia lihat.
Kemudian segalanya kembali gelap, ia lupa apa yang terjadi sesudahnya. Entah apakah ia tidak bisa mengingatnya atau ia tidak mau mengingatnya. Matanya kembali mencari-cari, tetapi ia tidak berhasil menemukan apa yang mungkin menjadi semua sumber darah yang berceceran itu. Ia menutup matanya sebentar. Apa? Apa yang sebenarnya ia cari? Sesosok mayatkah?
Ia kembali diam menatap sungai. Suasana di tepi sungai itu terasa begitu sepi. Hening, tidak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan disana, selain air sungai yang mengalir cukup deras. Suara-suara yang ia dengar hanyalah suara angin berhembus dan suara dedaunan yang saling bergesekan karena diterpa angin. Air matanya lagi-lagi mengalir karena mengingat kekecewaannya atas pengkhianatan kekasihnya tercinta.
Kekasihnya mula-mula terkejut dan berusaha menenangkan isak tangisnya, tetapi itu hanya sebentar, karena setelah itu kekasihnya mulai marah, marah dan menyalahkan dia kenapa datang tanpa pemberitahuan. Ia menangis, tetap menangis, tak peduli bagaimana kekasihnya terus membujuk. Akhirnya kekasihnya kehilangan kesadaran, kekasihnya marah dan mulai memukulinya. Ia kaget, tidak menyangka kekasihnya akan melakukan hal seperti itu pada dirinya, emosinya tak terkendali. Perasaannya campur aduk antara sedih, marah, dan kecewa. Ia jadi membenci kekasihnya, kenapa kekasihnya mengkhianatinya? Padahal ia selalu beranggapan bahwa kekasihnya mencintainya. Kalau memang cinta, bagaimana mungkin kekasihnya berbuat sesuatu yang menyakitkan hatinya – menduakannya dengan perempuan lain??
Ia mulai melempari sungai dengan batu-batu kecil yang terdapat di sekitar tempatnya duduk. Suara air saat dilempari batu memenuhi pikirannya. Satu batu, dua batu, ia menghitung dalam hati, tiga batu, empat batu. Hening. Ia berhenti melempari sungai. Otaknya kembali mengingat sesuatu. Pisau.
Ia ingat ia mengambil pisau, mengarahkannya ke kekasihnya dan perempuan lain itu dengan penuh kemarahan. Perempuan itu kaget dan takut, perempuan itu mencoba melarikan diri. Dengan membabi buta ia mengacung-acungkan pisaunya. Perempuan itu lalu menjerit. Lengan perempuan itu kini bersimbah darah. Pisau yang digenggamnya telah menggores lengan perempuan itu cukup dalam. Ia kaget, tidak mengira ia akan melukai seseorang dengan pisau itu. Selintas ia menyesal, tetapi kemudian rasa penyesalan itu hilang, ini bukan salahnya, demikian ulangnya dalam hati, ini salah kekasihnya, ini salah laki-laki yang mengkhianatinya, ini salah perempuan itu, bukan salahnya.
Ia sedikit menengadah ketika merasakan sesuatu dari langit. Hujan. Bibirnya membentuk seulas senyum. Bahkan langit pun menangis atas kemalangan yang menimpanya, bahkan langitpun berada dipihaknya. Matanya beralih dari langit menuju sungai yang mengalir semakin deras. Apakah ia telah membunuh kekasih dan perempuan itu? Apakah ia telah membuang mayat mereka berdua ke dalam sungai? Itukah yang telah membuatnya merenung di tepi sungai saat ini?
Hujan semakin deras, otaknya berpikir semakin keras. Apakah yang dipikirkannya itu benar? Bahwa ia telah membunuh dua orang yang mengkhianatinya. Dikhianati oleh kekasih yang dicintainya? Semakin keras ia berpikir semakin sakit kepalanya. Sudut matanya menangkap sesuatu. Seuntai kalung, tergeletak begitu saja dipinggir sungai, tersangkut di rerumputan. Ia bergerak untuk meraihnya, menggenggamnya dengan sebelah tangan, kemudian memperhatikan kalung itu, berpikir. Tiba-tiba dia terdiam, ia berhenti berpikir, bibirnya menyunggingkan seulas senyum. Senyum pahit.
Ia ingat apa yang terjadi. Ia ingat bagaimana pisau di tangannya telah melukai perempuan itu. Ia juga ingat bagaimana kekasihnya sangat marah dan mulai memaksa merebut pisau itu dari tangannya. Ia ingat bagaimana ia melawan kekasihnya, ia tidak mau menyerahkan pisau itu kepada kekasihnya. Ia ingat bagaimana ia berpikir bahwa ia adalah korban dalam peristiwa ini dan kekasihnya serta perempuan itu adalah pelakunya, orang jahatnya.
Ia ingat pisau itu menusuk di perut. Darah dimana-mana, mengotori tangan, rambut, dan pakaiannya. Ia menangis. Kalung itu, adalah miliknya, hadiah dari seseorang yang dulunya merupakan kekasihnya. Ia yang sekarang tidak mungkin memilikinya lagi. Semuanya sudah jelas. Kekasihnya telah menusukkan pisau itu ke perutnya. Darah yang melekat di tubuhnya itu adalah darahnya. Ia yang sekarang mungkin sudah terbawa derasnya air sungai. Entah kemana.