Tulang Ayam

Posted in Simple life on September 30, 2009 by alice4th

Tulang ayam itu kecil dan kering. Pertama kali terlihat ketika aku melangkahkan kaki di depan kamar sepupuku yang berada di lantai yang sama. Saat itu terlihat beberapa ekor semut merah berkerumun di sekitarnya. Keningku berkerut sebentar, mencoba menelusuri asal usul sang tulang ayam. Kulirik tong sampah dan teringat akan kucing gendut yang suka gentayangan di kos setiap malam, rasanya aku tahu dari mana asal tulang itu.

Kubiarkan saja tulang itu disitu. Setiap hari pembantu kos punya jadwal untuk nyapu ngepel. Biar saja. Aku akan menanti pembantu kos menyapu tulang itu dan mengembalikannya kemana ia seharusnya berada. Mari kita lihat seberapa rajin pembantu kos kita dan berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk mengenyahkan sang tulang ayam dari pandanganku.

Sekian lama berselang, kudapati tulang itu telah berpindah, mendekati kamarku. Wew, sepertinya sang tulang tertarik pada kamarku. Lagi-lagi keningku berkerut sebentar, maksudnya berpikir, pembantu kos itu setiap pagi nyapu ngepel ga sih? Kok bisa itu tulang nyasar sampai kesini?

Sekali lagi kubiarkan tulang itu disitu. Menanti tindakan dari pembantu kos untuk menyingkirkannya dari jalan menuju kamarku.

Bukannya menghilang, tulang itu semakin mendekat ke depan pintu kamar di keesokan harinya. Aku nyengir ga jelas. Oke, sederhana saja. Aku semakin curiga pembantu kos tidak melakukan kegiatan yang namanya nyapu ngepel dengan semestinya. Itu tulang ayam. Itu kasat mata, dan sekian hari berlalu sang tulang masih numplek disitu. Semakin mendekat ke kamarku malah.

Sekali lagi. Kubiarkan tulang itu. Yuk kita lihat berapa hari lagi tulang itu akan disapu pembantu kos.

Selanjutnya aku tidak memperhatikan, yang jelas aku tak melihat keberadaan tulang ayam itu, yang semakin lama terlihat semakin kering. Yang terlintas dipikiranku hanya satu: akhirnya pembantu kos melakukan pekerjaannya juga. Menyapu tulang ayam itu dari depan kamarku. Begitulah, aku merasa senang.

Berganti minggu, tibalah saat akhirnya aku harus menunaikan kewajibanku sebagai penghuni kamar kos yang baik, nyapu ngepel kamar sendiri. Jadi kuambil sapu hijau kecil yang nyaris rusakku dan kusapu kamar. Kemudian, kutarik ember biru kecilku yang selama ini tergeletak manis di sebelah rak sepatu, bersiap-siap mengisinya dengan air dan karbol, untuk kemudian dipakai untuk mengepel lantai kamarku.

Lalu dahiku berkerut, lagi.

Ada apa dibalik ember? Bukan udang, karena udang adanya dibalik batu. Yang membuat dahiku berkerut adalah: tulang ayam. Bukan sulap bukan sihir, wew, ternyata selama ini sang tulang ayam bersembunyi dibalik ember biru. Aku tertawa. Ternyata pembantu kos nyapu ngepelnya asal saja. Atau .. tidak nyapu tidak ngepel, sang tulang ayam sebenarnya tertendang ke sana kemari tak tentu arah sampai dia berlabuh dibalik ember?

Kali ini aku tidak diam. Kuambil sapu mantan salah satu teman kos yang ditinggalkannya sebagai oleh-oleh di kos. Kusapu sang tulang yang semakin kering, kuraup dengan pengki hijau butut yang sudah layak diganti dengan yang baru, dan kemudian kukembalikan ke tempatnya berasal: tong sampah.

Semua selesai dalam waktu kurang dari lima menit.

Seharusnya itu kulakukan sejak pertama kali kulihat tulang ayam salah tempat itu. Tapi aku memilih menunggu orang lain melakukannya untukku.

Ternyata kalau ada pekerjaan yang memang bisa kaulakukan sendiri, lebih baik memang dilakukan sendiri. Buat apa menunggu orang lain.

Jakarta 1 September 2009.

Sesuatu yang sebenarnya sudah mau ditulis sudah lama

Al.ice

Perpisahan

Posted in Cerita Cerita on August 26, 2009 by alice4th

Dalam diam aku memandangi selembar foto dalam pigura. Foto itu begitu nyata, aku dapat mengingat dengan begitu jelas hari saat foto itu diambil, baju yang kukenakan, baju yang dikenakannya, cuaca pada hari itu, suasana pantai yang kami datangi, suara ombak yang menjadi latar belakangnya. Kututup kedua mataku dan aku terbayang masa-masa itu. Masa saat dia ada disampingku.

Pandangan mataku beralih ke tepian jendela, melihat beberapa tamu yang datang, suasana muram sedang menaungi rumah ini, dan kurasa juga menaungi aku, menaungi hatiku. Aku tidak akan sama lagi tanpa dirinya.

Sepintas kurasa aku melihatnya, melihat dirinya yang selama ini berada di hatiku, apakah itu benar dia? Tidak salahkah mataku? Ataukah aku merasa melihatnya semata-mata hanya karena aku ingin untuk melihatnya? Ingin dia berada lagi disisiku, menemaniku? Begitu egoisnyakah aku?

Dengan perlahan aku menapaki satu persatu anak tangga, secara refleks pandangan mataku mencari dirinya, mencari dia yang ingin kucari, mencari dia yang selama ini telah mengisi bukan hanya hatiku, tetapi juga seluruh jiwa ragaku. Aku melihat ibunya menangis di ujung ruangan, aku tersenyum pahit, aku juga merasakan hal yang sama seperti dia, merasakan kehilangan, merasakan kehampaan. Semuanya kosong.

Lalu aku melihat adikku, duduk diam disebelah ibuku. Ia diam tanpa bahasa, begitu juga ibuku, seakan mereka berdua sedang duduk beradu diam, tidak ada suara sama sekali, bahkan aku tidak dapat mendengar isak tangis mereka, tak kulihat air mata menetes di pipi mereka. Tapi sorot mata mereka kosong, sama seperti aku, mereka tidak bisa menerima kehilangan ini.

Selagi berjalan mengelilingi rumah aku melihat berbagai orang, ada yang diam, ada yang menangis, aku melihat ayahku berdiri, bercengkrama dengan beberapa anggota keluarga dan beberapa koleganya yang tidak kukenal, semuanya menceritakan tentang kemalangan, kesedihan, kehilangan. Menambah pedih luka di hatiku.

Tapi aku tidak dapat menemukan dia, dia yang kucinta. Dimanakah dia? Bersembunyikah dia dariku? Atau memang aku sudah tidak dapat bertemu lagi dengan dirinya?

Tiba-tiba sudut mataku menangkap bayangannya, kakiku otomatis melangkah kearahnya, menuju dirinya. Aku berhenti disebelah peti mati, lalu diam terpekur selama beberapa saat. Akhirnya, memang hanya kematian yang dapat memisahkan kami. Di ujung ruangan dimana peti mati itu diletakkan ada seorang anak perempuan kecil dengan mata sembab habis menangis, adiknya, adik perempuan kecilnya, yang selalu suka mengekori kami kemanapun kami pergi. Aku tersenyum, anak seusianya mungkin tidak akan merasakan kehilangan ini seperti kami.

Kutatap wajahnya, matanya sedang terpejam, ia seperti sedang tertidur lelap. Walau aku tahu ia tidak sedang tertidur. Ingin aku menyentuhnya saat ini. Ia terasa begitu dekat, sampai rasanya aku dapat merasakan hangat hembusan napasnya, yang aku tahu tidak mungkin. Aku tidak akan pernah dapat merasakan rasa hangat itu lagi.

Sepintas kulihat matanya mengerjap. Apakah ia membuka matanya? Kurasa begitu, rasa rindu berkecamuk dihatiku, rindu melihat matanya, yang berwarna coklat tua, kadang terlihat begitu kelam, kadang terlihat begitu cerah, seakan menggambarkan seluruh isi hatinya. Lalu ia membuka matanya dan menatap lurus kearahku.

Aku tersenyum kecil, wajahnya tetap sama seperti yang kuingat, walau bayang di bawah matanya menandakan malam-malam yang dilaluinya dengan sedikit waktu tidur. Selebihnya ia tetap sama, orang yang kucintai dulu, sekarang, dan selamanya. Tanganku bergerak hendak merengkuhnya, dan seperti yang sudah kuduga, aku tidak bisa.

Aku tahu dia tidak dapat melihatku. Ia menelengkan kepalanya, sesuatu yang sering dilakukannya, lalu berpaling melihat ke arah peti. Dimana aku, atau sesosok yang dulunya aku, terbaring kaku.

Setelah malam ini, aku tidak akan dapat lagi bertemu dengannya.

Lantai ke 4

Posted in Cerita Cerita on May 29, 2009 by alice4th

Kalau diperhatikan, tentu rasanya aneh melihat sebuah gedung kadang tidak mempunyai lantai 4 atau lantai 13. Tetapi ada gedung yang begitu, dan sebagai ganti lantai tersebut kadang kita menemukan lantai 3a atau lantai 12a. Begitulah, di gedung rektorat kampusku yang berlantai sepuluh, lantai 4-nya tidak ada, hilang di-skip begitu saja, tanpa lantai pengganti. Kalau begitu seharusnya gedung rektorat ini lebih tepat disebut berlantai sembilan, bukannya sepuluh, bagaimanapun juga kan lantai 4-nya tidak ada. Anehnya, jika kita naik lift, kita dapat melihat angka 4 tercantum dengan jelasnya diatas angka 3 pada tombol lantai lift yang akan dituju, tetapi tombol itu hanya hiasan, tidak dapat ditekan. Penanda lantai di dalam lift juga mencantumkan angka 4, padahal kami semua tahu, lantai 4 itu tidak pernah ada.

Berbagai cerita aneh beredar mengenai lantai 4 ini. Ada cerita beredar bahwa lift bisa berhenti sendiri di lantai 4, walaupun jelas tidak mungkin ada orang yang bisa memencet tombol angka 4 dari dalam lift. Ada yang bilang pintunya tetap tertutup, tapi lift berhenti saat penunjuk lantai menunjuk angka 4. Ada juga yang bilang pintunya terbuka, memperlihatkan sebuah lantai yang seharusnya tidak pernah ada, dan barang siapa yang salah keluar dari lift ke lantai yang tidak ada itu, tidak akan pernah kembali lagi. Hilang begitu saja. Entah mana cerita yang benar.

Cerita yang lain lagi tentang tangga. Selain lift, tentunya ada tangga sebagai sarana naik atau turun dari lantai yang satu menuju lantai yang lainnya. Penggunaan tangga dari lantai 3 ke lantai 5 atau sebaliknya sangat dihindari, kalau tidak terpaksa sebisa mungkin jangan mengakses tangga itu. Gosipnya kadang muncul lantai tambahan diantara dua lantai itu, lantai ke 4, yang jelas sebenarnya tidak pernah ada. Dan lagi, siapapun yang tidak sengaja mampir ke lantai ini, tidak akan pernah kembali. Konon lantai ke 4 ini hanya muncul saat magrib, hari jumat tanggal 13, jumat kliwon, jumat minggu ke 13, hari ke 4 minggu ke 4 pada tahun kabisat, tanggal 29 Februari, dan lain-lain. Agak tidak jelas memang.

Bagiku semua cerita miring tentang lantai ke 4 ini nyaris tidak bisa dipercaya, tidak pernah ada saksi ataupun bukti yang mendukung bahwa lantai ke 4 itu ada. Tidak pernah ada orang yang tahu apakah benar-benar ada orang yang hilang di lantai ke 4. Tidak pernah ada orang yang melihat bahwa lift berhenti di lantai ke 4. Semuanya tidak ada bukti, tapi cerita tetap menyebar. Semua penghuni kampus menghindari naik tangga antara lantai 3 dan lantai 5, ketakutan kalau harus naik lift sendirian jika akan melewati lantai 4, lantai yang sebenarnya tidak pernah ada.

Walau aku tidak bisa mempercayai cerita lantai 4 ini, tetap saja aku melakukan apa yang semua orang lakukan, menghindari naik lift sendirian, menghindari tangga antara lantai 3 dan 5, menghindari naik turun lantai saat magrib, bahkan ada kepercayaan untuk tidak menggunakan baju-baju warna tertentu. Terlepas dari benar tidaknya semua itu, aku tetap saja melakukan semua pantangan.

Sampai hari ini tiba. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, aku benci harus menyelesaikan hukuman membersihkan lab bahasa, hanya karena aku lupa mengumpulkan tugasku hari ini. Ditambah lagi hari ini ada lab bahasa tambahan sampai pukul tujuh. Setengah jam aku mengebut membersihkan dan merapihkan ruangan lab bahasa. Dan sekarang aku mau pulang. Begitu kupikir, sampai aku sadar bahwa aku berada di lantai 7 gedung rektorat, dan liftnya macet. Astaga! Aku harus turun tangga sendirian pada jam segini?? Di tangga yang banyak cerita anehnya itu??

Tapi .. daripada tidak pulang lebih baik aku turun tangga. Aku bersenandung pelan untuk meramaikan suasana yang terlalu sepi, lantai 7 ke lantai 6, lantai 6 ke lantai 5, lalu lantai 5 ke lantai 4 .. eh, 3, seharusnya tidak sulit.

Tidak ada orang di lantai 6 ketika aku sampai di sana, hanya lampu koridor yang menyala, suasananya agak suram, sayup-sayup aku mendengar suara seseorang mengetik, sepertinya masih ada karyawan kampus yang bertugas. Lantai 5 juga sama seperti lantai sebelumnya, kosong, tidak ada tanda-tanda manusia beredar. Mendadak aku kuatir saat aku menuruni tangga dari lantai 5. Lantai berapa yang sebenarnya aku tuju? Lantai 4? Atau lantai 3? Cepar-cepat aku menuruni tangga, lega rasa hatiku saat aku telah sampai di ujung tangga. Segera aku bergegas turun lagi, menuju lantai berikutnya. Hanya dua lantai lagi, pikirku.

Langkahku terhenti dipertengahan anak tangga saat aku menyadari ada suara langkah kaki. Kaki siapa? Tanpa sadar aku menengok, ke arah lantai yang baru saja aku tinggalkan. Lalu aku terkejut karena ada seseorang yang berdiri disana dan tersenyum padaku. Mau tidak mau akupun membalas senyumannya.

“Pulang malam?” tanyanya ramah.

“Kena hukum beresin lab tadi. Lo?” aku bertanya balik. Wajahnya sepertinya familiar, tapi … dia siapa? Aku tidak ingat.

“Biasa, anak-anak rapat ngurusin acara buat besok, trus seenaknya kabur ninggalin gua. Gua pegang konci, kudu beresin ruangan dulu, baru bisa pulang, mau pulang bareng ga? Tungguin gua bentar ya?”

Aku bimbang. Jalanan di depan kampus terkenal angker dan seram. Baik angker karena banyak setan ataupun seram karena banyak garongnya. Yang terlihat dan tidak terlihat semuanya sama mengerikannya.

“Berapa lama?” aku bertanya

“Ga sampe lima menit, tinggal matiin lampu, cek jendela, kunci pintu. Sebentar kelar lah. Tadi abis dari WC. Untung juga sempet liat lo di tangga, jadi ada temen pulang” jawabnya sambil menyeringai. “Naek dulu aja, sekalian nemenin gua disini, dah ga ada orang soalnya”

“Oke” spontan aku menjawab. Toh aku tidak perlu menunggu terlalu lama. Aku melangkahkan kakiku kembali keatas.

Saat aku telah sampai di lantai itu mendadak aku teringat. Rapat? Buat acara besok? Memang besok ada acara apaan? Biasanya yang suka rapat itu kan anak Senat atau BPM? Senat dan BPM kan tidak punya ruangan di gedung rektorat? Yang ruangannya di gedung rektorat kan anak-anak UKM? Tapi ruangan anak UKM kan adanya di lantai 7? Jadi aku sekarang lagi ada di lantai berapa?

Aku melongo melihat penanda lantai yang ada depan lift, yang tidak terlihat dari anak tangga yang tadi kuturuni. Disitu tertulis jelas, lantai 4. Aku menghela nafas.

“Kenapa?” tanyanya. Seakan bingung melihatku terpaku di depan lift.

“Ga, cuma mau mastiin, berapa lama gua harus nunggu disini” tanyaku datar.

“Ga lama, bentar juga kelarlah” dia tersenyum.

“Trus selama nunggu, ada yang bisa gua kerjakan?”

“Sambil nemenin gua ngobrol aja yuk?” jawabnya sambil tertawa kecil, kemudian dia melangkah menuju ruangan yang berada tepat disebelah lift.

Lalu aku ingat siapa dia. Dia teman seangkatanku. Aku satu kelompok dengannya saat kami menjalani masa-masa ospek bareng. Aku juga ingat bahwa ia sudah meninggal tahun lalu. Andai aku bisa pulang malam ini, aku akan bisa bercerita kepada semua orang, ada apa sebenarnya di lantai 4 gedung rektorat kampusku.

Tempat Bermain

Posted in Cerita Cerita on February 11, 2009 by alice4th

Aku ingat aku pernah memecahkan kaca itu. Tapi kapan? Aku lupa pastinya. Perlahan jemari mungilku menyusuri pinggiran kusen kaca yang berdebu. Aku terbatuk sedikit. Ibu pasti marah kalau tahu aku pergi main ke rumah tua ini. Ibu bilang rumah tua berdebu seperti ini bisa mengganggu pernafasanku. Yah, aku agak sensitif terhadap debu sih, tapi bagaimanapun rumah tua ini adalah tempat bermain yang paling kusukai. Ruangannya yang kosong dan luas sangat asyik dijadikan tempat bermain. Aku sangat suka berpura-pura menjadi seorang penjelajah, terdampar dan bertualang di suatu negri antah berantah yang sama sekali tidak aku kenal.

Langkah-langkah kakiku menimbulkan suara bergema di dalam rumah, tap, tap, tap, aku bersenandung pelan, melantunkan sebuah lagu yang begitu sering kunyanyikan, sampai aku lupa apa judulnya. ”whiiiii” aku menirukan suara mesin pesawat terbang, kedua tanganku terentang, langkah kakiku semakin kencang. Senang rasanya bermain sendirian seperti ini, membuatku mengabaikan semua yang ada disekitarku, masalah di rumah, masalah di sekolah, masalah dikepalaku.

”Krek” aku mendengar suara derit lantai rumah tua itu. Aku berhenti berlari. ”Siapa itu?” tanyaku lantang, cenderung marah, merasa daerah kekuasaanku diambil orang. ”Siapa?” ulangku lagi karena tidak ada seorangpun yang menyahut.

Aku berjalan menghampiri asal suara. Aku tahu betul semua bagian rumah ini, satu-satunya lantai yang berderit dirumah ini adalah lantai di depan pintu rumah. Dan benar saja disana aku menemukan seorang lelaki yang agak tua, sedang berdiri canggung.

”Om siapa? Mau apa kemari?” tanyaku sok galak. Entah apa maunya om aneh ini. ”Risa…” om itu menyebut namaku, pelan memang, tapi aku dapat mendengarnya dengan jelas, wajahnya tampak kebingungan. ”Iya om, ada apa?”

”Tidak, hanya mampir” jawabnya aneh, pandangan matanya tidak pernah beralih dariku, aku mulai berasa bingung, sebenarnya apa sih maunya om ini? Terus kenapa ia bisa tahu namaku?

”Oh, mampir kok ke rumah tua begini?” komentarku.

”Kamu juga, main kok ditempat begini…” sahut om itu tak mau kalah. Aku merengut, kesal.

”Terserah aku dong om,” jawabku sekenanya. Alisku bertaut, kok kayaknya aku kenal om ini yah? Om ini siapa sih? Aku pernah lihat dia dimana sebenarnya?

”Kalau gitu om juga terserah om dong?” Ia menimpali aku lagi, wajahnya kini dihiasi seulas senyum, tapi matanya menimbulkan kesan sedih.

”Ini wilayah kekuasaanku tahu!” aku mulai melotot, merengut ke arah om aneh itu.

”Risa, Risa, kamu memang selalu begitu ya,” om itu berkata, tangannya terjulur kearah kepalaku, entah mengapa aku diam saja, ada rasa nyaman saat telapak tangannya menyentuh kepalaku. Om itu lalu diam, wajahnya sekarang menampakkan rasa terkejut.

”Kenapa om?”

”Risa, kamu main disini terus? Ga pulang? Ga dicari ayah dan ibu?” tanyanya pelan, dengan tangannya masih menumpang di atas kepalaku.

”Risa mau pulang kok, bentar lagi,” jawabku segera, tapi lalu aku mengerenyit. Sudah berapa lama ya aku main disini? Ayah dan ibu kuatir tidak ya aku belum belum pulang?

Om itu mengangkat tangannya dari kepalaku  “Om sendiri? Mau di sini sampai kapan?” tanyaku asal, entah mengapa ada rasa kecewa ketika om itu menarik tangannya dari atas kepalaku.

“Sebentar lagi juga pulang, om ditunggu istri om dirumah,” jawabnya pelan.

“Ditunggu anak om juga?”

“Dia belum pulang, kami menunggunya pulang.”

“Oh.. Risa pulang sekarang saja deh. Nanti dicari ibu,” kataku sambil tersenyum, memperlihatkan deretan gigi depanku yang ompong satu.

“Iya, hati – hati di jalan,” om itu berkata sambil tersenyum, matanya masih menyiratkan kesedihan.

“Daaah om,” kataku sambil berjalan keluar rumah, “Sampai jumpa lagi,” kali ini aku melambaikan tangan kepadanya. Aku bisa melihat dia membalas lambaian tanganku.

Lalu aku mulai berlari-lari kecil kembali menyenandungkan laguku yang biasa, sambil sedikit memikirkan alasan apa yang harus aku katakan kepada ibu kenapa aku terlambat pulang, juga masalah kaca yang pecah itu. Aku sempat berbalik dan melihat bahwa om itu masih berdiri di tempatnya tadi, entah apa yang ditunggu.

Laki-laki itu menghela nafas ketika bayangan anak perempuan itu mulai tidak terlihat lagi. Perlahan air matanya mengalir. Ia tidak percaya ia bisa melihat Risa lagi. Risa putrinya yang tidak pernah kembali sejak pergi bermain sendiri. Risa yang diperkirakan hilang diculik orang ketika sedang sendirian di rumah tua. Rumah tua yang ia datangi karena berbagai desas desus tentang terlihatnya seorang anak perempuan kecil yang suka bermain sendirian. Rumah tua dimana mayat putrinya diketemukan sepuluh tahun yang lalu. 

Sedih

Posted in Cerita Cerita on January 20, 2009 by alice4th

Gadis itu duduk sendirian di tepi sungai, termenung, tidak peduli walaupun angin kencang bertiup. Wajahnya muram, melukiskan suatu bentuk kesedihan yang tidak dapat digambarkan oleh kata-kata. Air mata mengaliri kedua pipinya. Uap menghembus dari mulutnya. Cuaca memang sangat dingin.

Entah apa yang merasuki pikirannya waktu itu. Yang jelas ia sangat kecewa, ia telah dikhianati oleh orang yang paling dicintainya, yang paling dipercayainya. Kekecewaannya telah membutakan mata dan pikirannya. Hatinya sakit. Hanya itu yang dirasakan olehnya. Ketika setitik kesadarannya kembali, ia, masih tersedu sedan dan masih kehilangan pikiran jernihnya, terkejut.

Kedua belah tangannya ternyata basah. Basah bersimbah darah. Cairan lengket itu melekat di mana-mana, di kedua tangannya, di bajunya, di celananya, bahkan di rambutnya. Kepalanya terasa berat, kesedihan karena sakit hati yang tadi dirasakannya seakan menguap begitu saja digantikan oleh rasa takut dan terkejut. Apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Darah siapa? Darah siapa yang telah mengotori tubuh dan pakaiannya itu? Mengapa darah itu bisa menempel ditubuhnya??

Ia kalap, mencoba mencari apa yang mungkin menjadi sumber dari darah yang mengotori dirinya. Sekilas ia mengingat sesuatu. Ia ingat, bagaimana hari itu ia datang ke rumah kekasihnya, tanpa pemberitahuan lebih dulu, untuk memberikan kejutan kepada kekasihnya yang sedang berulang tahun. Ia ingat bagaimana ia berhasil mendapat kereta yang lebih pagi supaya ia dapat tiba lebih cepat di rumah kekasihnya. Ia ingat betapa bahagianya dia waktu itu, dan betapa bahagianya ia pikir kekasihnya nanti saat melihatnya datang. Tetapi ternyata perkiraannya itu salah.

Kekasihnya terkejut melihatnya datang, sama terkejutnya dengan dirinya yang melihat kekasihnya sedang bersama orang lain – perempuan lain. Air matanya tumpah seketika, ia menangis, kekasihnya panik, berusaha menenangkan dirinya yang histeris, perempuan itu panik, berusaha merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakan, ia panik, mencoba mencoba menyangkal apa yang sudah ia lihat.

Kemudian segalanya kembali gelap, ia lupa apa yang terjadi sesudahnya. Entah apakah ia tidak bisa mengingatnya atau ia tidak mau mengingatnya. Matanya kembali mencari-cari, tetapi ia tidak berhasil menemukan apa yang mungkin menjadi semua sumber darah yang berceceran itu. Ia menutup matanya sebentar. Apa? Apa yang sebenarnya ia cari? Sesosok mayatkah?

Ia kembali diam menatap sungai. Suasana di tepi sungai itu terasa begitu sepi. Hening, tidak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan disana, selain air sungai yang mengalir cukup deras. Suara-suara yang ia dengar hanyalah suara angin berhembus dan suara dedaunan yang saling bergesekan karena diterpa angin. Air matanya lagi-lagi mengalir karena mengingat kekecewaannya atas pengkhianatan kekasihnya tercinta.

Kekasihnya mula-mula terkejut dan berusaha menenangkan isak tangisnya, tetapi itu hanya sebentar, karena setelah itu kekasihnya mulai marah, marah dan menyalahkan dia kenapa datang tanpa pemberitahuan. Ia menangis, tetap menangis, tak peduli bagaimana kekasihnya terus membujuk. Akhirnya kekasihnya kehilangan kesadaran, kekasihnya marah dan mulai memukulinya. Ia kaget, tidak menyangka kekasihnya akan melakukan hal seperti itu pada dirinya, emosinya tak terkendali. Perasaannya campur aduk antara sedih, marah, dan kecewa. Ia jadi membenci kekasihnya, kenapa kekasihnya mengkhianatinya? Padahal ia selalu beranggapan bahwa kekasihnya mencintainya. Kalau memang cinta,  bagaimana mungkin kekasihnya berbuat sesuatu yang menyakitkan hatinya – menduakannya dengan perempuan lain??

Ia mulai melempari sungai dengan batu-batu kecil yang terdapat di sekitar tempatnya duduk. Suara air saat dilempari batu memenuhi pikirannya. Satu batu, dua batu, ia menghitung dalam hati, tiga batu, empat batu. Hening. Ia berhenti melempari sungai. Otaknya kembali mengingat sesuatu. Pisau.

Ia ingat ia mengambil pisau, mengarahkannya ke kekasihnya dan perempuan lain itu dengan penuh kemarahan. Perempuan itu kaget dan takut, perempuan itu mencoba melarikan diri. Dengan membabi buta ia mengacung-acungkan pisaunya. Perempuan itu lalu menjerit. Lengan perempuan itu kini bersimbah darah. Pisau yang digenggamnya telah menggores lengan perempuan itu cukup dalam. Ia kaget, tidak mengira ia akan melukai seseorang dengan pisau itu. Selintas ia menyesal, tetapi kemudian rasa penyesalan itu hilang, ini bukan salahnya, demikian ulangnya dalam hati, ini salah kekasihnya, ini salah laki-laki yang mengkhianatinya, ini salah perempuan itu, bukan salahnya.

Ia sedikit menengadah ketika merasakan sesuatu dari langit. Hujan. Bibirnya membentuk seulas senyum. Bahkan langit pun menangis atas kemalangan yang menimpanya, bahkan langitpun berada dipihaknya. Matanya beralih dari langit menuju sungai yang mengalir semakin deras. Apakah ia telah membunuh kekasih dan perempuan itu? Apakah ia telah membuang mayat mereka berdua ke dalam sungai? Itukah yang telah membuatnya merenung di tepi sungai saat ini? 

Hujan semakin deras, otaknya berpikir semakin keras. Apakah yang dipikirkannya itu benar? Bahwa ia telah membunuh dua orang yang mengkhianatinya. Dikhianati oleh kekasih yang dicintainya? Semakin keras ia berpikir semakin sakit kepalanya.  Sudut matanya menangkap sesuatu. Seuntai kalung, tergeletak begitu saja dipinggir sungai, tersangkut di rerumputan. Ia bergerak untuk meraihnya, menggenggamnya dengan sebelah tangan, kemudian memperhatikan kalung itu, berpikir. Tiba-tiba dia terdiam, ia berhenti berpikir, bibirnya menyunggingkan seulas senyum. Senyum pahit.

Ia ingat apa yang terjadi. Ia ingat bagaimana pisau di tangannya telah melukai perempuan itu. Ia juga ingat bagaimana kekasihnya sangat marah dan mulai memaksa merebut pisau itu dari tangannya. Ia ingat bagaimana ia melawan kekasihnya, ia tidak mau menyerahkan pisau itu kepada kekasihnya. Ia ingat bagaimana ia berpikir bahwa ia adalah korban dalam peristiwa ini dan kekasihnya serta perempuan itu adalah pelakunya, orang jahatnya.

Ia ingat pisau itu menusuk di perut. Darah dimana-mana, mengotori tangan, rambut, dan pakaiannya. Ia menangis. Kalung itu, adalah miliknya, hadiah dari seseorang yang dulunya merupakan kekasihnya. Ia yang sekarang tidak mungkin memilikinya lagi. Semuanya sudah jelas. Kekasihnya telah menusukkan pisau itu ke perutnya. Darah yang melekat di tubuhnya itu adalah darahnya. Ia yang sekarang mungkin sudah terbawa derasnya air sungai. Entah kemana.

To be unseen

Posted in Short stories on January 19, 2009 by alice4th

To be unseen

 

In my mind there’re always thoughts about being unseen. Being unseen seems so remarkable, amazing, and interesting! Many things can be done if you’re unseen. No one will disturb or annoy you if no one can see you! That’s what I always think of.

 

I’m a father of two active children, a husband of a talkative wife, and an employee of a disturbing employer. I was born nearly 45 years ago, in a small, really small, country. My father was a farmer, and so does my grandfather. We did farming for our living, and I don’t like it al all. That’s why I go to this city and start to find a good career.

It wasn’t easy to find a good job if you didn’t have high education. Being graduated from unrecognized local high school with no special ability, I found it hard to make my stomach full. But I kept on trying. And finally I found a job as a dull clerk.

Actually it can’t be count as a clerk. I’m a slave. That’s it. There is no other closer word to describe my job. My employer gave me so many kinds of job to do. From day to day my job descriptions were longer, longer, and longer. And still, there was no change in my salary. He just paid me the same salary as the beginning. No raise at all. But I can’t quit. I need the money anyway.

I met Sarah at a small café near my office. She was a nice girl. She always smiled sweetly, talked gently, and made me happy. That’s why I marry her. But things changed since the day I say I do at the church. She started to show her egoism. Her ego was so high that I started to regret my decision.

Then I had my first son. He had just the same black eyes as mine. His small fingers kept on trying grabbing mine, his small mouth kept on muttering something we didn’t understand. And I was so grateful for that. My second child is a girl. She looked alike her granny much. We adored her smile much, it just the same as her mother’s. The smile that made me falls in love.

But they’re not little babies anymore now. Tom has grown into a young adult now, he almost finish his study in the university. Susan will finish her high school this year. They only pay a little attention to me nowadays. But maybe it’s better. They don’t annoy me much, however.

I hate being annoyed, that’s why I don’t like to go home on busy hour. The bus is always crowded. They push you here and there, and if you are unlucky, puff, there goes your wallet or cell phone.

But one day, today, was different. The bus wasn’t that full. I even got a place to sit. Whew, it makes me feel better after a bad day at the office and the awful car that speed on the road just when I about to cross. I was shocked, indeed, but feel relieved after that. Once I sat down, I felt sleepy. I yawned several times when I prepared to pay the bus fare. But the bus conductor didn’t ask me for the fare. He just passed me when he was asking other passengers for the bus fee. I smiled a little; sometimes he would even forget taking fares from some passengers.

When he kept on passing me, I felt a sleep. I can pay him the fee when I get down anyway. I opened my eyes when the bus was approaching my neighborhood. A bit dizzy because of the sudden awaken; I jumped off the bus right after the bus stop. I forgot to pay the fare. I’ve just realized it when I was walking home from the bus stop and the bus has set off. I shook my head several times; guess that getting older and older makes me easier to forget things. I felt my body is covered by pain, but anyway I have to resist it. I stretched my body as I was standing in front of my front door. I opened the door after cleaning my shoes on the doormat, half expecting my wife was there to welcome me, but she wasn’t there. I raised my eyebrows. This was unusual. Usually she will welcome me with a ‘nice’ and long speech about our children, or a hot gossip about our neighbors. But I didn’t hear her usual gossiping tone today. Where’s she? It is Friday. She’s always at home around this time at Friday, updating me with the newest gossip.

I closed the door behind me, said nothing and stepped in. My house was never silent. The sound of the television Tom’s watching, the sound of Susan giggling on the phone, the sound of my wife chattering around. Just like that. I can hear Sarah’s voice chatting on the phone from the kitchen, guess that explains why she wasn’t here to tell me some gossip. I don’t like to hear gossips actually, but still, I found something’s missing.

I left my goods on the desk near the front door and walked to the living room. I saw Tom watching his favorite music channel. I smiled a little; he even doesn’t bother to welcome his father home. I didn’t see Susan, maybe she was upstairs, in her room that nobody can get in without her permission.

I went to the kitchen to get myself something to drink. I saw Sarah walking beside me, toward the living room, but she said nothing. She just passed me. I turned my head after she did that, confused. What’s wrong with today? Guess that I’m being unseen today. No one annoy me since I went home from the office today. I sighed and kept on walking to the kitchen.

Then I heard something shocking. I heard Susan’s crying. I ran to the living room where I heard the voice came from. And when I’m panting near the bookshelf I can see Tom, Susan, and Sarah, all of them watching the news on TV. I can see the fear in their faces and tears in their eyes as the news played a video about an accident happened just this evening.

One person died in that accident. A man named Thomas. Suddenly I realized the reason why everyone didn’t talk to me, the reason why they act as they didn’t see me. I’m unseen. I died in that accident this afternoon.

 

Hello world!

Posted in Short stories on January 19, 2009 by alice4th

Welcome to WordPress.com. This is my first post. I edit this and start blogging .. actually I’m ‘uploading’ my short strories here :D hahaha, so please do leave me any comment, hope that it can make my writing better :)

Thank You :p