Tulang ayam itu kecil dan kering. Pertama kali terlihat ketika aku melangkahkan kaki di depan kamar sepupuku yang berada di lantai yang sama. Saat itu terlihat beberapa ekor semut merah berkerumun di sekitarnya. Keningku berkerut sebentar, mencoba menelusuri asal usul sang tulang ayam. Kulirik tong sampah dan teringat akan kucing gendut yang suka gentayangan di kos setiap malam, rasanya aku tahu dari mana asal tulang itu.
Kubiarkan saja tulang itu disitu. Setiap hari pembantu kos punya jadwal untuk nyapu ngepel. Biar saja. Aku akan menanti pembantu kos menyapu tulang itu dan mengembalikannya kemana ia seharusnya berada. Mari kita lihat seberapa rajin pembantu kos kita dan berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk mengenyahkan sang tulang ayam dari pandanganku.
Sekian lama berselang, kudapati tulang itu telah berpindah, mendekati kamarku. Wew, sepertinya sang tulang tertarik pada kamarku. Lagi-lagi keningku berkerut sebentar, maksudnya berpikir, pembantu kos itu setiap pagi nyapu ngepel ga sih? Kok bisa itu tulang nyasar sampai kesini?
Sekali lagi kubiarkan tulang itu disitu. Menanti tindakan dari pembantu kos untuk menyingkirkannya dari jalan menuju kamarku.
Bukannya menghilang, tulang itu semakin mendekat ke depan pintu kamar di keesokan harinya. Aku nyengir ga jelas. Oke, sederhana saja. Aku semakin curiga pembantu kos tidak melakukan kegiatan yang namanya nyapu ngepel dengan semestinya. Itu tulang ayam. Itu kasat mata, dan sekian hari berlalu sang tulang masih numplek disitu. Semakin mendekat ke kamarku malah.
Sekali lagi. Kubiarkan tulang itu. Yuk kita lihat berapa hari lagi tulang itu akan disapu pembantu kos.
Selanjutnya aku tidak memperhatikan, yang jelas aku tak melihat keberadaan tulang ayam itu, yang semakin lama terlihat semakin kering. Yang terlintas dipikiranku hanya satu: akhirnya pembantu kos melakukan pekerjaannya juga. Menyapu tulang ayam itu dari depan kamarku. Begitulah, aku merasa senang.
Berganti minggu, tibalah saat akhirnya aku harus menunaikan kewajibanku sebagai penghuni kamar kos yang baik, nyapu ngepel kamar sendiri. Jadi kuambil sapu hijau kecil yang nyaris rusakku dan kusapu kamar. Kemudian, kutarik ember biru kecilku yang selama ini tergeletak manis di sebelah rak sepatu, bersiap-siap mengisinya dengan air dan karbol, untuk kemudian dipakai untuk mengepel lantai kamarku.
Lalu dahiku berkerut, lagi.
Ada apa dibalik ember? Bukan udang, karena udang adanya dibalik batu. Yang membuat dahiku berkerut adalah: tulang ayam. Bukan sulap bukan sihir, wew, ternyata selama ini sang tulang ayam bersembunyi dibalik ember biru. Aku tertawa. Ternyata pembantu kos nyapu ngepelnya asal saja. Atau .. tidak nyapu tidak ngepel, sang tulang ayam sebenarnya tertendang ke sana kemari tak tentu arah sampai dia berlabuh dibalik ember?
Kali ini aku tidak diam. Kuambil sapu mantan salah satu teman kos yang ditinggalkannya sebagai oleh-oleh di kos. Kusapu sang tulang yang semakin kering, kuraup dengan pengki hijau butut yang sudah layak diganti dengan yang baru, dan kemudian kukembalikan ke tempatnya berasal: tong sampah.
Semua selesai dalam waktu kurang dari lima menit.
Seharusnya itu kulakukan sejak pertama kali kulihat tulang ayam salah tempat itu. Tapi aku memilih menunggu orang lain melakukannya untukku.
Ternyata kalau ada pekerjaan yang memang bisa kaulakukan sendiri, lebih baik memang dilakukan sendiri. Buat apa menunggu orang lain.
Jakarta 1 September 2009.
Sesuatu yang sebenarnya sudah mau ditulis sudah lama
Al.ice